Sumbarmaju.com_Penulis:Bukhari, M.A. (Kepala Sekolah SMPN 3 X Koto Diatas, Kabupaten Solok)
1. Kasus SMKN 3 Tanjung Jabung Timur: Ketegangan Pembelajaran yang Meledak.
Dunia pendidikan kembali dikejutkan oleh beredarnya sebuah video yang memperlihatkan konflik antara seorang guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Dalam peristiwa tersebut, seorang guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra terlibat ketegangan yang berujung pada konflik fisik hingga dirinya dikeroyok oleh sejumlah siswa.
Berdasarkan berbagai informasi yang beredar, peristiwa ini bermula ketika guru yang bersangkutan mendengar ucapan tidak sopan dari seorang siswa di tengah proses pembelajaran. Reaksi spontan berupa teguran keras dan tindakan fisik kemudian memicu kericuhan yang meluas. Kejadian ini berujung pada penghentian sementara proses belajar mengajar serta penanganan kasus oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jambi melalui jalur mediasi.
Kasus ini menyisakan keprihatinan mendalam dan menjadi cermin bagi dunia pendidikan tentang rapuhnya relasi guru dan siswa ketika emosi tidak terkelola dengan baik.
2. Kesabaran dalam Pengajaran: Perspektif Para Pakar.
Dalam kajian pendidikan, kesabaran merupakan elemen penting profesionalisme guru yang sangat memengaruhi kualitas hubungan guru dan siswa, iklim kelas, serta hasil belajar. Beberapa pandangan pakar pendidikan mempertegas hal ini.
a. Carl Rogers: Guru sebagai Fasilitator Empatik.
Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menegaskan bahwa guru ideal berperan sebagai fasilitator yang empatik, bukan sekadar penyampai materi. Guru yang mampu memahami perasaan dan sudut pandang siswa akan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Kesabaran menjadi fondasi utama lahirnya empati dalam interaksi pembelajaran.
b. Haim Ginott: Kekuatan Komunikasi Positif.
Haim Ginott menekankan bahwa bahasa guru memiliki pengaruh besar terhadap perilaku siswa. Komunikasi yang sabar, menghargai, dan menenangkan mampu meredam konflik, sementara respons reaktif dan bernada emosional justru memperkeruh suasana. Kalimat yang menenangkan sering kali lebih efektif daripada hukuman atau ancaman.
c. Lee S. Shulman: Kompetensi dan Pengelolaan Emosi.
Menurut Lee S. Shulman, profesionalisme guru tidak hanya terletak pada penguasaan materi ajar, tetapi juga pada kemampuan mengelola kelas dan emosi. Kesabaran merupakan bagian dari keterampilan afektif yang membuat guru mampu mengubah konflik menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
3. Pentingnya Kesabaran dalam Proses Pembelajaran.
Kesabaran guru berdampak luas pada berbagai aspek pendidikan.
a. Membangun Hubungan Positif.
Guru yang sabar mampu merespons perilaku menantang siswa secara proporsional, sehingga tercipta hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati dan kepercayaan.
b. Mengurangi Eskalasi Konflik.
Banyak konflik di sekolah berawal dari reaksi emosional yang tidak terkendali. Kesabaran memberi ruang bagi guru untuk menunda reaksi, menghindari tindakan fisik, dan memilih pendekatan yang lebih bijaksana.
c. Menjadi Teladan Perilaku
Teori pembelajaran sosial Albert Bandura menegaskan bahwa siswa belajar melalui observasi. Guru yang sabar menjadi model nyata dalam mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan menunjukkan etika sosial yang sehat.
4. Pelajaran dari Kasus Jambi: Refleksi Bersama.
Kasus di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur menunjukkan betapa kompleksnya tantangan pengelolaan kelas di tengah tekanan emosional. Oleh karena itu, refleksi perlu dilakukan secara menyeluruh dan berimbang.
Guru membutuhkan penguatan kompetensi manajemen kelas, termasuk strategi de-eskalasi konflik dan komunikasi asertif tanpa kekerasan.
Siswa perlu pembinaan karakter dan disiplin sosial agar memahami bahwa tindakan agresif dan penghinaan terhadap pendidik tidak dapat dibenarkan.
Sekolah sebagai institusi memiliki tanggung jawab menyediakan pelatihan berkelanjutan bagi guru, khususnya terkait psikologi remaja, kepemimpinan kelas, dan resolusi konflik.
5. Implementasi Kesabaran dalam Praktik Mengajar
Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain:
a. Komunikasi Reflektif.
Guru membiasakan mendengarkan dan merefleksikan perasaan siswa sebelum memberikan arahan atau sanksi.
b. Manajemen Kelas Proaktif.
Penerapan aturan kelas yang jelas, adil, dan konsisten akan meminimalkan potensi konflik.
c. Integrasi Pembelajaran Sosial-Emosional.
Penguatan kompetensi sosial-emosional dalam kurikulum membantu siswa mengenali dan mengelola emosinya secara sehat.
6. Penutup
Mengajar dengan sabar bukan sekadar tuntutan moral, melainkan prasyarat utama profesionalisme pendidik. Kasus di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur menjadi pengingat bahwa ruang kelas adalah ruang interaksi manusiawi yang sarat emosi dan tantangan.
Kesabaran, komunikasi yang bijak, serta manajemen kelas yang matang adalah kunci untuk mencegah konflik dan membangun budaya belajar yang sehat, aman, dan bermartabat bagi semua pihak.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan refleksi bersama demi perbaikan dunia pendidikan, bukan untuk menyudutkan individu atau institusi tertentu.( Yefrimon )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar