Singkarak,Sumbar Maju. Com — Di tengah kesibukan aktivitas madrasah, terselip kisah ketulusan yang menghangatkan hati.
Keluarga besar MAN 2 Solok kembali menunjukkan bahwa kebersamaan bukan sekadar slogan, tetapi nyata dalam tindakan, terutama saat salah satu dari mereka tengah diuji.
Senin, 30 Maret 2026 menjadi hari yang penuh makna. Tim sosial MAN 2 Solok yang terdiri dari para guru dan pegawai melangkahkan kaki dengan satu tujuan:
menghadirkan kekuatan bagi keluarga rekan kerja yang sedang berjuang melawan sakit.
Dipimpin oleh Kepala Urusan Tata Usaha (Kaur TU), Amri, rombongan menyambangi kediaman keluarga Emi Susanti serta keluarga Risfanelti.
Kehadiran mereka bukan hanya membawa doa, tetapi juga harapan yang menenangkan di tengah situasi yang tidak mudah.
Dalam suasana haru, setiap sapaan terasa lebih dalam. Tak banyak kata yang terucap, namun kehadiran itu sendiri menjadi bukti bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan.
Amri menyampaikan bahwa kepedulian seperti ini merupakan bagian dari budaya kebersamaan yang terus dijaga di lingkungan MAN 2 Solok. Baginya, hubungan antar sesama tidak hanya terjalin di ruang kerja, tetapi juga diuji dan diperkuat saat duka datang.
“Kami percaya, kekuatan terbesar lahir dari kebersamaan. Saat satu diuji, yang lain harus hadir menguatkan,” ujarnya penuh ketulusan.
Kepala MAN 2 Solok, H. Maidison, S.Pd., turut menegaskan bahwa solidaritas merupakan nilai penting yang harus terus dijaga dalam sebuah lembaga pendidikan.
Menurutnya, semangat kebersamaan tidak hanya menciptakan keharmonisan, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan.
“Dalam Islam, sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadis, sesama muslim itu adalah saudara. Ketika satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain pun ikut merasakannya. Itulah nilai yang harus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Pihak keluarga yang dikunjungi pun tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Di tengah kondisi yang berat, kehadiran para guru dan pegawai menjadi sumber kekuatan baru yang tak ternilai.
“Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi penguat hati bagi kami. Kami merasa tidak sendiri,” ujar salah satu anggota keluarga dengan mata berkaca-kaca.
Kegiatan ini menjadi cerminan bahwa nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian masih tumbuh subur di lingkungan madrasah. Lebih dari sekadar rutinitas, aksi ini adalah wujud nyata dari ikatan batin yang kuat antar sesama.
Di MAN 2 Solok, solidaritas bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupkan—menjadi cahaya di saat sulit, dan penguat di kala duka.( Yef)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar