Redaksi

Kota Solok, SumbarMaju.com — Budaya literasi di lingkungan pesantren terus didorong agar mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga cerdas dalam menyampaikan gagasan melalui tulisan dan karya intelektual. 

Semangat itulah yang tampak dalam pelaksanaan Workshop Literasi bertajuk “Dari Pesantren untuk Dunia” yang digelar Pondok Pesantren Darut Thalib, Rabu (20/05/2026).


Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama Kota Solok, Fauzi. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan penuh Kementerian Agama terhadap penguatan tradisi literasi di kalangan pesantren.

Dalam sambutannya, Fauzi menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Darut Thalib yang terus menghadirkan kegiatan positif dan produktif bagi para santri.


 Menurutnya, langkah pesantren menggelar workshop literasi merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di era modern.


Ia menegaskan bahwa pesantren saat ini memiliki tanggung jawab besar untuk ikut melahirkan generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman dan karakter akhlakul karimah.


“Pesantren tidak hanya menjadi tempat mendalami ilmu agama, tetapi juga harus menjadi pusat lahirnya generasi intelektual yang mampu menulis, berpikir kritis, dan memberi kontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.


Menurut Fauzi, tradisi literasi sejatinya sudah lama hidup dalam dunia pesantren. Kebiasaan membaca kitab, mencatat ilmu, berdiskusi, hingga menelaah pemikiran ulama merupakan bagian dari budaya intelektual yang perlu terus diperkuat.


Karena itu, ia berharap budaya membaca dan menulis dapat terus ditanamkan kepada para santri sejak dini agar mampu berkembang menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.


“Kalau budaya literasi tumbuh kuat di pesantren, maka akan lahir banyak ulama, penulis, dai, dan pemimpin masa depan yang mampu membawa perubahan positif untuk bangsa,” tambahnya.


Workshop tersebut menghadirkan narasumber nasional, Muhammad Subhan, seorang penulis dan pegiat literasi yang dikenal aktif membina generasi muda dalam dunia kepenulisan melalui Sekolah Menulis Elipsis.


Didatangkan langsung dari Padang Panjang, Muhammad Subhan membagikan pengalaman dan motivasi kepada para santri tentang pentingnya membangun keberanian untuk menulis dan menyampaikan gagasan kepada publik.


Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan literasi karena lingkungan pesantren sangat dekat dengan budaya belajar, membaca, dan mendalami ilmu.


Menurutnya, banyak tokoh besar lahir dari tradisi literasi yang kuat. Karena itu, santri harus mulai membiasakan diri membaca buku, mencatat ide, dan menulis berbagai pengalaman maupun pemikiran yang dimiliki.


“Santri memiliki banyak nilai kehidupan dan pengalaman yang sangat kaya. Semua itu bisa menjadi tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkapnya di hadapan peserta workshop.


Ia juga menekankan bahwa menulis bukan sekadar kemampuan merangkai kata, tetapi bagian dari proses membangun pola pikir yang teratur, kritis, dan kreatif.


Muhammad Subhan mengajak para santri untuk tidak takut memulai. Menurutnya, karya besar selalu diawali dari langkah kecil dan keberanian untuk mencoba.

“Jangan takut tulisan kita belum sempurna. Semua penulis besar juga belajar dari proses panjang. Yang penting adalah mulai menulis,” katanya memberi semangat.


Suasana workshop berlangsung penuh antusias. Para peserta terlihat aktif mengikuti setiap sesi kegiatan, mulai dari mendengarkan materi, berdiskusi, hingga bertanya langsung kepada narasumber mengenai teknik menulis dan cara menemukan ide.

Tidak sedikit santri yang mengaku termotivasi untuk mulai menulis setelah mengikuti workshop tersebut. 


Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai ruang belajar dan pengembangan diri.


Pimpinan Pondok Pesantren Darut Thalib menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pesantren dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.


Pihak pesantren menilai, kemampuan literasi sangat penting dimiliki santri agar mereka tidak hanya menjadi pembaca keadaan, tetapi juga mampu menjadi pelaku perubahan melalui gagasan dan karya.


Selain itu, penguatan literasi juga menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan komunikasi, memperluas wawasan, dan meningkatkan rasa percaya diri para santri.


Melalui workshop ini, Pondok Pesantren Darut Thalib berharap lahir generasi santri yang aktif berkarya, memiliki kemampuan berpikir luas, serta mampu membawa nilai-nilai pesantren ke ruang publik melalui tulisan dan media modern.


Semangat “Dari Pesantren untuk Dunia” yang diusung dalam kegiatan tersebut menjadi pesan kuat bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, dakwah, dan gerakan literasi yang berkelanjutan.


Dengan terselenggaranya workshop ini, Pondok Pesantren Darut Thalib menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat lahirnya generasi kreatif, produktif, dan siap memberi kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar