Kurikulum Berbasis Cinta Menggema di Sumbar, Pendidikan Madrasah Masuki Era Baru.

Kurikulum Berbasis Cinta Menggema di Sumbar, Pendidikan Madrasah Masuki Era Baru.

Redaksi

Padang, SumbarMaju.com – Dunia pendidikan madrasah di Sumatera Barat memasuki babak baru. Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat terus memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), sebuah gagasan besar dari Kementerian Agama RI yang kini mulai diterapkan sebagai ruh baru dalam proses pembelajaran di seluruh madrasah.

Program tersebut dinilai menjadi langkah progresif karena tidak hanya menitikberatkan pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang, empati, toleransi, dan kepedulian sosial kepada peserta didik sebagai bekal menyongsong Indonesia Emas 2045.


Penguatan KBC dibahas dalam pertemuan strategis yang dihadiri seluruh Kepala Madrasah se-Sumatera Barat. 

Kegiatan itu dipimpin Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumbar H.Mustafa MA bersama jajaran bidang pendidikan madrasah.


Dalam paparannya, Kakanwil menyampaikan bahwa Sumatera Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan madrasah. 


Saat ini terdapat 48 Madrasah Aliyah Negeri (MAN), 112 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), 62 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), serta 1.606 madrasah swasta yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.


Selain itu, ribuan tenaga pendidik ikut menopang sistem pendidikan tersebut, dengan total peserta didik mencapai lebih dari 159 ribu siswa dari berbagai jenjang.

“Ini bukan sekadar angka. 


Ini adalah lahan subur untuk menanamkan cinta sebagai inti pendidikan. Kurikulum Berbasis Cinta bukan mata pelajaran baru, tetapi pendekatan baru dalam mendidik generasi masa depan,” tegas Kakanwil.


Hadir langsung memberikan pembinaan, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si., menyebut KBC sebagai tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional.


“Sejak Indonesia merdeka, baru kali ini Kemenag mampu memberi warna dan menginsersi kurikulum nasional dengan Kurikulum Berbasis Cinta tanpa mengganti kurikulum yang sudah ada. Ini adalah sejarah,” ujar Prof. Nyayu disambut antusias peserta.


Ia menjelaskan, KBC telah melalui proses uji publik bersama para pakar pendidikan dan dirancang agar implementasinya tidak hanya di ruang kelas, tetapi menjadi budaya di lingkungan madrasah.


Menurutnya, pendidikan sejati bukan hanya mencetak siswa pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan akhlak mulia.


Suasana forum berlangsung hangat dan penuh semangat. Para kepala madrasah diberi ruang berdialog terbuka terkait strategi penerapan KBC di satuan pendidikan masing-masing.


“Cinta adalah inti pendidikan. Dengan KBC, proses belajar harus dirasakan sebagai panggilan jiwa, bukan beban. Inilah pendidikan yang memanusiakan manusia,” pungkasnya.


Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan madrasah di Sumatera Barat. Kurikulum Berbasis Cinta kini bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi gerakan nyata menuju masa depan pendidikan yang lebih humanis dan berkarakter.( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar