Sumbarmaju. Com, Padang - Sejarah fiskal baru tercipta di Ranah Minang Dalam momentum emas peringatan 80 tahun Provinsi Sumatera Barat. Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menyalakan bara perubahan melalui program pemutihan pajak kendaraan bermotor yang berhasil mencetak rekor kepatuhan dan pendapatan daerah.
Selama tiga bulan pelaksanaan — dari 25 Juni hingga 30 September 2025 — Bapenda Sumbar mencatat capaian luar biasa: lonjakan kepatuhan wajib pajak hingga 19 persen dan 867.335 kendaraan melakukan registrasi pajak. Angka ini melesat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 730.334 unit.
Namun, bagi Kepala Bapenda Sumbar Syefdinon, capaian tersebut bukan sekadar deretan angka.“Pemutihan bukan sekadar instrumen fiskal, tetapi wujud kasih negara kepada rakyatnya. Kami ingin rakyat bisa menunaikan kewajiban tanpa dihantui denda, sementara daerah tetap kuat secara fiskal. Inilah keseimbangan yang kami perjuangkan,” ujarnya.
Melalui kebijakan pembebasan 100 persen tunggakan pokok PKB (kecuali pajak tahun berjalan), penghapusan denda mutasi keluar provinsi, serta penghapusan sanksi administrasi, ribuan masyarakat menengah ke bawah mendapat ruang bernapas baru.
Euforia terlihat di seluruh kantor Samsat dan aplikasi layanan digital. Warga yang dulunya enggan datang kini justru berbondong-bondong menunaikan kewajiban dengan senyum, karena tumbuhnya kembali rasa percaya antara rakyat dan pemerintah.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy menyebut program ini bukan hanya keberhasilan fiskal, tetapi juga manifestasi empati sosial dalam kebijakan publik.
“Kita tidak sedang memburu angka, kita sedang menanam empati. Pajak bukan beban, tetapi jembatan menuju pembangunan,” tegasnya.
“Dengan beban yang lebih ringan, rakyat punya ruang bernapas, daya beli meningkat, dan ekonomi nagari pun hidup kembali.”
Keberhasilan spektakuler ini turut ditopang oleh revolusi layanan digital melalui aplikasi Samsat Digital Nasional (SIGNAL) yang memungkinkan pelayanan tanpa antre, tanpa batas waktu, dan tanpa jarak.
“Inilah wajah baru pelayanan publik. Teknologi tidak lagi dingin dan kaku — kini ia punya empati: memudahkan, mendekatkan, dan menumbuhkan kepercayaan,” tutur Syefdinon.
Transformasi digital tersebut meneguhkan posisi Bapenda Sumbar sebagai pelopor digitalisasi fiskal daerah di Indonesia. Transparansi meningkat, efisiensi tumbuh, dan masyarakat merasakan langsung kemudahan pelayanan dalam genggaman.
Meski program pemutihan telah usai, semangatnya terus hidup. Bapenda Sumbar kini mengarahkan fokus pada perubahan paradigma:dari kepatuhan karena kewajiban menjadi kesadaran karena cinta daerah. (A.R)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar