Siswa MTsN 2 Solok Gelar Makan Bajamba & Pasambahan, Hidupkan Budaya Minangkabau.

Siswa MTsN 2 Solok Gelar Makan Bajamba & Pasambahan, Hidupkan Budaya Minangkabau.

Redaksi

Solok, SumbarMaju.com –  – Siswa MTsN 2 Solok mengikuti ujian praktik Keminangkabauan dengan cara berbeda. Mereka menggelar makan bajamba lengkap dengan pidato pasambahan, yang dipandu Bundo Ely Suarty, S.Pd.I, sehingga siswa dapat mengalami budaya Minangkabau secara langsung.Rabu, 11/2/2026.

Kegiatan ini mengangkat tema “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, filosofi hidup yang menjadi pedoman masyarakat Minangkabau. Tujuannya agar nilai-nilai adat tetap hidup di tengah generasi muda.


Kepala Sekolah, Erdinal S. Pd., menyampaikan bahwa praktik keminangkabauan ini penting. 



“Kegiatan seperti ini bukan hanya soal ujian, tapi sarana menghayati nilai-nilai adat secara nyata. Siswa belajar memahami filosofi hidup Minangkabau sambil menumbuhkan rasa cinta budaya,” ujar Erdinal.


Sementara itu, Bundo Ely Suarty, S.Pd.I, menekankan urgensi pembelajaran adat di era modern. “Karena adat Minangkabau sudah mulai tergerus zaman, oleh pengaruh media sosial seperti Facebook, TikTok, dan lainnya, maka dengan adanya kurikulum Keminangkabauan, kita menanamkan nilai-nilai budaya ini kepada anak didik kita.


Dalam adat Minangkabau, dikenal sistem adat Salingka Nagari. Anak dilahirkan dalam garis keturunan ibuk, dan ketika sudah dewasa, mamak-lah yang membimbing, mengarahkan, dan mengurusnya—terutama saat akan berkeluarga. 


Setelah dewasa, mereka akan menjadi niniak mamak dalam rumah keluarga ibunya sendiri, melanjutkan peran adat dan menjaga nilai-nilai luhur budaya,” ujar Bundo Ely.


Dalam acara, siswa laki-laki berperan sebagai niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan manti dubalang, sementara siswi perempuan menjadi bundo kanduang, mande rubiah, dan anggota masyarakat. Mereka juga menampilkan pidato pasambahan, menirukan niniak mamak di ujuang dan di pangka.


Kegiatan dibagi dalam dua sesi. Batimbang tando diikuti kelas E, G, dan H. Maanta marapulai dilaksanakan oleh kelas A, B, C, D, dan F. Pembagian ini membuat semua siswa terlibat aktif dan fokus pada peran masing-masing.


Suasana semakin terasa adat karena kelas dihias menyerupai Rumah Gadang. Dinding dihiasi tabia berwarna-warni, lapiak, dan seprah makan dijadikan alas hidangan, sehingga pengalaman belajar terasa nyata dan berkesan.


Selain praktik budaya, kegiatan ini juga mengajarkan siswa disiplin, rasa hormat, dan kerjasama. Siswa belajar bagaimana menghormati peran adat dan memahami struktur sosial Minangkabau.


Ujian praktik seperti ini membuktikan bahwa pendidikan berbasis budaya mampu menghibur, mendidik, dan menanamkan karakter sekaligus. Nilai-nilai Minangkabau bukan hanya pelajaran sejarah, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.

( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar