Sumbarmaju.com_Pemerintah Kabupaten Agam membuka secara resmi acara Silaturahmi Akbar 2026 Ranah jo Rantau Nagari Matua Hilia di Lapangan Hijau Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Senin, 23 Maret 2025. Acara yang berlangsung satu hari penuh ini diselimuti berbagai kegiatan, mulai dari lomba marandang basamo, penampilan seni budaya Minangkabau, hingga berbagai hadiah perlombaan.
Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Agam, Syatria, S.Sos., M.Si., mengapresiasi terlaksananya acara Silaturahmi Akbar Ranah jo Rantau masyarakat Nagari Matua Hilia ini. Menurut Syatria, kegiatan ini sejalan dengan permintaan Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, M.M., Dt. Tan Batuah, agar masyarakat melaksanakan event di kampung masing-masing.
"Bupati pernah menyampaikan kiranya masyarakat kampung dan rantau menjalin silaturahmi dengan membuat event untuk memperkuat silaturahmi. Jadi, terima kasih masyarakat Matua Hilia sudah melaksanakan kegiatan ini yang sejalan dengan keinginan Pak Bupati," kata Syatria saat memberikan sambutan dalam pembukaan acara.
Ia melanjutkan, acara ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi kampung lain, tetapi juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat Matua Hilia, mengingat wilayah ini berada di jalur perlintasan. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin. _*"Kito juo punyo tampek memadai,"*_ katanya.
Apalagi dalam pembukaan acara ini sudah hadir Wali Nagari Matua Hilia dan Matua Mudiak. Ia berharap ke depan acara bisa lebih besar, misalnya dilaksanakan se-Kecamatan Matur. "Tadi Pak Can meminta dukungan pemerintah daerah. Di sini sudah hadir Kadis Pariwisata Agam, tinggal bagaimana ke depan event ini bisa terus didukung," katanya.
Syatria juga mengucapkan selamat atas pengukuhan pengurus Ikatan Keluarga Matua Hilia (IKAMAHI). "Kalau memang sepakat kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun atau tahun 2027 nanti, sekarang sudah mulai disampaikan sampai jumpa di event tahun 2027," katanya.
Ketua Panitia, Buya Abdul Arief, menjelaskan bahwa acara silaturahmi akbar ranah jo rantau ini berawal dari perbincangan beberapa tokoh masyarakat Matua Hilia di rantau dengan tokoh masyarakat di kampung. Perbincangan tersebut membuahkan ide untuk membuat acara besar seperti ini.
"Acara kita tidak hanya lomba memasak randang, tetapi juga ada berbagai rangkaian yang sudah terlaksana, di antaranya lomba kebersihan antarjorong, tabligh akbar, dan pawai obor. Hari ini sedang berlangsung lomba marandang oleh delapan jorong yang ada di Matua Hilia," kata Buya Arief.
Tokoh masyarakat Matua Hilia, Chandra St. Indra, mengucapkan terima kasih kepada dunsanak di rantau. Seluruh perantau Matua Hilia telah berinisiatif memajukan nagari agar lebih maju. _*"Kami sangat menyambut baik rencana nan elok ko, masyarakat Matua Hilia berharap nanti untuk berkesinambungan,"*_ kata Chandra.
Ia berharap ke depan acara dapat diselenggarakan lebih besar. _*"Kami sebagai urang kampuang Matua Hilia, memohon pemerintah untuk bersinergi dan mendukung acara ko, sehingga berkesinambungan. Kami masyarakat mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana siang dan malam untuk tercapainya acara ini,"*_ katanya.
Chandra juga mengucapkan terima kasih kepada donatur dari Kabupaten Agam, dari kecamatan, serta seluruh masyarakat yang telah berkontribusi membantu sehingga acara ini terlaksana. _*"Saya terharu acara ini, karena umur saya 72 tahun, baru ini ada acara yang memikirkan ranah jo rantau,"*_ kata tokoh yang biasa disapa Can itu.
Hal senada disampaikan Wali Nagari Matua Hilia, Nofrizal Anas. Ia menyampaikan terima kasih kepada para perantau yang telah menginisiasi kegiatan silaturahmi akbar ranah dan rantau. Menurutnya, kegiatan ini merupakan gagasan yang sangat bernilai, karena momentum Halal Bihalal setelah bulan Ramadan ditutup dengan kegiatan silaturahmi bertema "Basamo Mambangun Kampuang". "Apalagi diadakan juga acara spesial lomba marandang basamo," katanya.
Lebih lanjut, Nofrizal memaknai kegiatan marandang bukan sekadar memasak, tetapi memiliki filosofi dalam membangun nagari. _*"Kalau kita perhatikan, randang adalah makanan tradisional yang sangat digemari oleh semua kalangan. Komponen rendang itu sangat beragam, ado lado yang mangatokan inyo paliang padeh, ado bawang mangatokan inyo paliang sanga, santan mangatokan inyo paliang ba minyak, dan dagiang mangatokan paliang lamak,"*_ kata Nofrizal.
Kondisi tersebut menurutnya mencerminkan masyarakat Nagari Matua Hilia yang beragam dan egaliter. _*"Tetapi, insyaallah bapak ibu, kalau itu semua kita satukan di kuali, maka terciptalah makanan yang sangat diminati oleh banyak orang,"*_ kata Anas.
Ia berharap silaturahmi masyarakat semakin kuat, meskipun memiliki karakter berbeda seperti lado, bawang, daging, atau santan. _*"Dengan adanya silaturahmi akbar ini, mari kita kuburkan perbedaan itu ke dalam kuali. Yang jelas, kita sama-sama meleburkan sifat kurang baik itu,"*_katanya di hadapan masyarakat Matua Hilia dan tamu undangan.
Sehingga, menurut Nofrizal, apa yang disampaikan tokoh masyarakat dan panitia dapat diwujudkan dalam membangun nagari ke depan sesuai peran masing-masing. _*"Seperti kata-kata, kok nan buto paambuih langsuang, lumpuh paunyi rumah, cadiak pandai baiyo, semoga komponen itu menyatukan kita di acara IKAMAHI ini,"*_ katanya.
Nofrizal menyadari selama ini kegiatan seperti ini belum terlaksana di Kenagarian Matua Hilia karena masyarakat masih berjalan sendiri-sendiri. _*"Seperti yang kita sampaikan tadi, ada yang mengaku bawang, ada mengaku lado, ada mengaku santan, ada pula mengaku dagiang. Mari kita bersatu, ini bukan hal yang mustahil, karena silaturahmi ini dibangun dengan kebersamaan dan persaudaraan, berdasarkan kearifan lokal kita,"*_ katanya.
Ia berharap silaturahmi akbar ini dapat menghadirkan konsep Nagari Matua Hilia yang lebih baik ke depan. _*"Mari kita inyoakkan, baik di rantau maupun di kampuang. Tanpa kebersamaan, itu hanya angan-angan belaka. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang merusak silaturahmi,"*_ katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum IKAMAHI, Berry, mengatakan bahwa bagi perantau, kegiatan ini merupakan implementasi dari pepatah _*"Satinggi-tinggi tabang bangau, suruiknyo ka kubangan juo."*_ _*"Maka di hari-hari yang baik ini, mari kita rajut tali silaturahmi, supaya saciok bak ayam, sadantiang bak basi, dalam mambangun Nagari Matua Hilia,"*_ katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat bantuan para donatur melalui proposal yang dijalankan panitia. Sumbangan yang diberikan merupakan bentuk kasih sayang untuk kampung halaman, sesuai prinsip _*"Nan ado samo dimakan, nan indak samo dicari.( Syafrianto. )







Tidak ada komentar:
Posting Komentar