Padang, SumbarMaju.com — Musyawarah Wilayah (Muswil) II Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Sumatera Barat resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Mustafa, di Aula Amal Bhakti I Kanwil Kemenag Sumbar, Rabu (29/12/2026).
Kegiatan lima tahunan ini dihadiri 121 peserta dari 18 kabupaten dan kota se-Sumatera Barat.
Pembukaan Muswil berlangsung khidmat dan menjadi momentum penting bagi organisasi profesi guru Raudhatul Athfal untuk melakukan evaluasi sekaligus menentukan arah kebijakan lima tahun ke depan.
Dalam sambutannya, Mustafa menegaskan bahwa guru Raudhatul Athfal memiliki posisi strategis dalam dunia pendidikan, khususnya dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Menurutnya, fase awal pendidikan merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang generasi masa depan.
“Guru RA adalah garda terdepan dalam pendidikan anak usia dini. Dari merekalah anak-anak mulai belajar mengenal nilai, sikap, dan kebiasaan baik,” ujar Mustafa.
Ia juga menyampaikan bahwa peran organisasi Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) sangat penting sebagai wadah penguatan kompetensi dan solidaritas para pendidik RA di daerah.
Mustafa yang hadir bersama Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Tan Gusli serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tanah Datar Hendri Pani Dias itu menekankan pentingnya Muswil sebagai forum evaluasi kinerja pengurus periode sebelumnya.
Selain evaluasi, Muswil II IGRA Sumbar juga menjadi ruang strategis untuk menyusun program kerja periode 2026–2031. Agenda lainnya adalah pemilihan ketua baru serta pembentukan kepengurusan yang lebih solid dan adaptif.
Menurut Mustafa, IGRA tidak hanya berfungsi sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Raudhatul Athfal. Ia berharap IGRA mampu terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman.
“IGRA harus menjadi rumah bersama bagi para guru untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kualitas pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pendekatan pembelajaran baru seperti Kurikulum Berbasis Cinta serta integrasi nilai ekoteologi dalam pendidikan anak usia dini, agar peserta didik tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli lingkungan.
Sementara itu, Ketua IGRA Pusat, Euis Susilawati, menegaskan bahwa IGRA merupakan organisasi yang menjadi jembatan komunikasi antar guru RA di seluruh Indonesia, meski bukan bagian dari struktur formal Kementerian Agama.
Ia menjelaskan bahwa sejak awal, pembentukan IGRA tidak terlepas dari peran Kanwil Kemenag di berbagai daerah, sehingga hubungan kemitraan perlu terus diperkuat.
“IGRA ini lahir dari kebutuhan bersama para guru RA di seluruh Indonesia. Karena itu, sinergi dengan Kemenag harus terus dijaga agar organisasi ini tetap berkembang,” ujarnya.
Euis juga berharap Muswil II IGRA Sumatera Barat mampu melahirkan kepemimpinan baru yang lebih progresif, profesional, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di masa mendatang.( Yef)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar