Menag RI Ajak ASN Kemenag Jadi “Living Quran”, Jangan Berhenti Membaca Mushaf.

Menag RI Ajak ASN Kemenag Jadi “Living Quran”, Jangan Berhenti Membaca Mushaf.

Redaksi

Bukittinggi, SumbarMaju. Com – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama untuk tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an sebagai mushaf, tetapi juga menghayatinya sebagai kalamullah yang hidup dalam perilaku sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Agama usai memberikan kuliah umum di UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Selasa petang (28/04/2026). 


Dalam kegiatan itu, Menag didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat, H. Mustafa, Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Kabag TU Edison, Kabiro Kesra Sumbar, serta jajaran pimpinan perguruan tinggi.

Menurut Menag, umat Islam tidak boleh berhenti hanya pada tahapan membaca dan memahami teks Al-Qur’an semata. Lebih dari itu, Al-Qur’an harus menjadi kebutuhan rohani yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.


“Jangan sampai kita berhenti pada tahapan pemahaman mushaf semata. Ketika mampu membaca dan memahami Al-Qur’an secara emosional, maka ia akan menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan,” ujarnya.


Ia kemudian menjelaskan perbedaan antara Al-Qur’an sebagai Kitabullah dan Kalamullah. Kitabullah, katanya, adalah mushaf yang tersusun rapi dalam huruf dan jilidan, menjadi petunjuk bagi seluruh manusia.


 Sementara Kalamullah merupakan nilai-nilai ilahiah yang hanya dapat diakses oleh pribadi yang bertakwa.


“Syarat untuk membaca kalamullah harus menjadi muttaqin. Mushaf Al-Qur’an adalah hudallinnas, tapi Al-Qur’an sebagai kalamullah hanya untuk orang yang bertakwa. Bersih lahir dan batin, baru bisa mengaksesnya,” tegas Menag.


Dalam kesempatan itu, Menag juga menyoroti cita-cita pendidikan tinggi keagamaan Islam. Ia berharap lulusan UIN tidak hanya unggul secara akademik, tetapi mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata hingga menjadi pribadi yang disebutnya sebagai living Quran.


“Jika sudah mampu menghayati Al-Qur’an, mengamalkannya dengan penuh keharuan dan kecintaan, dan kalau sudah menjadi living Quran, itu akan seperti Quran berjalan,” katanya.


Kepada ASN dan dosen Kementerian Agama, Menag mengingatkan bahwa tanggung jawab moral mereka sangat besar di mata masyarakat. Ia mengutip pandangan Buya Hamka bahwa insan Kemenag ibarat kain putih yang mudah terlihat bila terkena noda kecil.


“Tidak mudah menjadi pegawai dan dosen Kemenag. Ekspektasi masyarakat terhadap kita sangat tinggi. Maka jaga setiap tindakan, ucapan dan langkah,” pesannya.


Menag menegaskan, keberhasilan Kementerian Agama dapat diukur dari kedekatan umat terhadap agamanya. Jika masyarakat semakin jauh dari nilai agama, maka itu menjadi alarm bagi seluruh jajaran Kemenag untuk berbenah.


Ia juga mengajak sivitas akademika untuk membangun suasana religius di lingkungan kampus dengan memadukan nilai-nilai agama dan kearifan lokal Minangkabau yang selama ini dikenal kuat memegang tradisi keislaman.


“Serambi Mekkah itu ada di Sumbar karena memiliki keunikan khas nilai yang sangat tinggi. Sumbar adalah guru bangsa, jangan sampai Sumbar menjadi murid bangsa. Mari kita lanjutkan keilmuan para tokoh dan ulama masa lampau,” serunya.


Selepas kegiatan, Menteri Agama bersama Kakanwil Kemenag Sumbar H. Mustafa dan rombongan juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan pimpinan serta para ustadzah di Pondok Pesantren Diniyah Puteri Padang Panjang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau.( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar