Kepemimpinan Level 5: Saat Kerendahan Hati Menjadi Kekuatan Terbesar. Oleh: H. Amril, S.Ag., M.M.Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok Senin, 6 Juli 2026.

Kepemimpinan Level 5: Saat Kerendahan Hati Menjadi Kekuatan Terbesar. Oleh: H. Amril, S.Ag., M.M.Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Solok Senin, 6 Juli 2026.

Redaksi

Kota Solok SumbarMaju.com - Dalam dunia kepemimpinan, banyak orang beranggapan bahwa seorang pemimpin besar adalah sosok yang memiliki karisma kuat, mampu memengaruhi banyak orang, pandai berbicara di depan publik, dan selalu menjadi pusat perhatian.

 Tidak sedikit pula yang mengukur keberhasilan kepemimpinan dari besarnya kekuasaan, popularitas, atau kemampuan mengendalikan organisasi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang benar-benar meninggalkan warisan terbaik justru sering kali adalah mereka yang bekerja dalam kesederhanaan, rendah hati, tidak haus pujian, namun memiliki tekad yang sangat kuat untuk membawa organisasi mencapai tujuan yang mulia.


Mengapa ada organisasi yang mampu berkembang secara konsisten, bahkan terus mencetak prestasi meskipun telah beberapa kali mengalami pergantian pemimpin? Sebaliknya, mengapa banyak organisasi justru kehilangan arah ketika sosok pemimpinnya tidak lagi berada di tempat? 


Pertanyaan-pertanyaan mendasar inilah yang mendorong Jim Collins melakukan penelitian selama bertahun-tahun terhadap sejumlah perusahaan yang berhasil bertransformasi dari organisasi yang hanya "baik" (good) menjadi organisasi yang benar-benar "hebat" (great). 


Hasil penelitian tersebut kemudian melahirkan konsep Level 5 Leadership, sebuah teori yang hingga kini menjadi salah satu rujukan penting dalam dunia kepemimpinan modern.


Konsep Level 5 Leadership mengajarkan bahwa pemimpin terbaik bukanlah mereka yang haus pujian atau gemar tampil sebagai pusat perhatian, melainkan mereka yang memadukan kerendahan hati (personal humility) dengan kemauan profesional yang luar biasa (professional will). 


Mereka bekerja bukan untuk membesarkan nama pribadi, tetapi untuk membangun organisasi yang kuat, berkelanjutan, dan mampu melahirkan generasi penerus yang lebih baik.


Sesungguhnya, nilai-nilai tersebut telah lama diajarkan dalam Islam. 

Jauh sebelum teori kepemimpinan modern berkembang, Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW telah menempatkan kerendahan hati (tawadhu') sebagai salah satu akhlak utama yang harus dimiliki setiap pemimpin. Kepemimpinan dalam Islam bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.


Allah SWT berfirman:


"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu ialah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan."

(QS. Al-Furqan: 63).


Ayat ini menggambarkan bahwa kerendahan hati merupakan ciri orang-orang yang dekat dengan Allah SWT. 


Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan baginya untuk bersikap santun, tidak sombong, serta menghargai orang lain.


Allah SWT juga berfirman:


"Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."

(QS. Luqman: 18).


Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang dapat menghancurkan kepemimpinan. Pemimpin yang enggan menerima kritik, merasa dirinya paling benar, dan menganggap bawahan tidak penting akan sulit membangun organisasi yang sehat dan maju.


Rasulullah SAW bersabda:


"Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya."

(HR. Muslim).


Hadis ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang pemimpin tidak lahir dari jabatan ataupun kekuasaan, melainkan dari ketulusan hati dan kerendahan dirinya di hadapan Allah SWT. Semakin tawadhu', semakin tinggi pula kemuliaan yang Allah anugerahkan.


Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi, maka ia tidak akan masuk surga."

(HR. Muslim).


Pesan ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga persoalan akidah dan akhlak.


 Kesombongan menjadikan seseorang sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain. Sebaliknya, kerendahan hati akan melahirkan sikap terbuka, semangat belajar, dan kemampuan membangun kebersamaan.


Seorang pemimpin Level 5 memahami bahwa jabatan hanyalah amanah. Ia tidak sibuk membangun citra diri, tetapi fokus membangun sistem yang baik. Ia tidak mengejar penghargaan, melainkan memastikan organisasi berjalan dengan integritas, profesionalisme, dan semangat melayani. Ketika organisasi berhasil, ia memberikan penghargaan kepada tim. Ketika terjadi kegagalan, ia tampil di depan mengambil tanggung jawab.


Nilai-nilai tersebut sangat relevan bagi aparatur sipil negara, khususnya di lingkungan Kementerian Agama. ASN dituntut tidak hanya profesional dalam bekerja, tetapi juga menjadi teladan dalam akhlak, integritas, serta pelayanan kepada masyarakat. Jabatan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan keikhlasan.


Pada akhirnya, kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.


 Pemimpin yang hebat akan dikenang bukan karena kemegahan jabatannya, melainkan karena keteladanan, kerendahan hati, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kemampuannya melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang mampu melanjutkan estafet perjuangan.


 Inilah hakikat Kepemimpinan Level 5—kepemimpinan yang menjadikan kerendahan hati sebagai kekuatan terbesar dan pengabdian sebagai jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.

( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar