Solok – RSUD Mohammad Natsir terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui berbagai inovasi di bidang keperawatan. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah CTAR Care (Chin Tuck Against Resistance Care), sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan gangguan menelan atau disfagia secara mandiri, terstruktur, dan berkelanjutan.
Inovasi CTAR Care hadir sebagai solusi terhadap tantangan pelayanan keperawatan, khususnya dalam pemberian latihan rehabilitatif bagi pasien disfagia yang selama ini belum berjalan secara optimal. Penanganan pasien dengan gangguan menelan umumnya masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan nutrisi melalui pengaturan tekstur makanan, modifikasi diet, maupun penggunaan alat bantu. Sementara itu, latihan untuk meningkatkan fungsi otot menelan belum sepenuhnya diterapkan secara sistematis dalam praktik keperawatan.
Berdasarkan evaluasi internal, tingkat keberhasilan perbaikan kemampuan menelan pasien sebelum penerapan inovasi ini masih berada di kisaran 60 persen. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi RSUD Mohammad Natsir untuk mengembangkan pendekatan baru yang lebih efektif dengan mengedepankan praktik keperawatan berbasis bukti (evidence-based practice).
Sebagai rumah sakit rujukan regional di Sumatera Barat, RSUD Mohammad Natsir menangani berbagai kasus dengan tingkat kompleksitas tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi klinis perawat menjadi kebutuhan penting agar mampu memberikan intervensi rehabilitatif yang tepat, aman, dan mendukung proses pemulihan pasien.
Pelaksanaan CTAR Care dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari peningkatan kapasitas perawat melalui pelatihan dan pembekalan mengenai teknik latihan kemampuan menelan, penerapan latihan secara terstruktur berdasarkan hasil pengkajian keperawatan, hingga monitoring dan evaluasi berkala terhadap perkembangan pasien serta kepatuhan perawat dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP).
Selain melibatkan tenaga kesehatan, inovasi ini juga mengikutsertakan keluarga pasien melalui edukasi dan pendampingan. Keluarga diberikan pemahaman mengenai pentingnya latihan menelan sehingga dapat membantu keberlanjutan terapi selama masa perawatan maupun setelah pasien kembali ke rumah.
Penerapan CTAR Care memberikan hasil yang positif terhadap kualitas pelayanan. Kompetensi perawat dalam melakukan intervensi rehabilitatif mengalami peningkatan, pelaksanaan latihan kemampuan menelan menjadi lebih terarah, terstandar, dan terdokumentasi dengan baik. Dampaknya, tingkat perbaikan kemampuan menelan pasien meningkat hingga lebih dari 80 persen.
Selain meningkatkan kemampuan menelan, inovasi ini juga berkontribusi dalam menurunkan risiko komplikasi seperti aspirasi dan gangguan pemenuhan nutrisi. Dengan demikian, keselamatan pasien, efektivitas pelayanan keperawatan, serta kepuasan pasien dan keluarga terhadap layanan rumah sakit semakin meningkat.
Direktur RSUD Mohammad Natsir Kota Solok, dr. Elvi Fitraneti, Sp.PD, FINASIM, mengatakan pada Selasa (7/7/2026), inovasi pelayanan keperawatan merupakan bagian dari upaya rumah sakit dalam menghadirkan layanan yang semakin berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
“Melalui inovasi CTAR Care, RSUD Mohammad Natsir terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga keperawatan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional, komprehensif, dan mendukung pemulihan fungsi pasien secara optimal,” ujarnya.
Melalui CTAR Care, RSUD Mohammad Natsir berharap dapat memperkuat pelayanan keperawatan berbasis kompetensi dan inovasi, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit. (Dioni)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar