Tanah Datar – Di balik gagahnya tradisi Pedang Pora, terselip suasana haru yang begitu terasa di Markas Polres Tanah Datar, Rabu (29/7/2026). Sejumlah personel tampak menundukkan kepala, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata saat melepas kepergian Kapolres mereka, AKBP Dr. Nur Ichsan Dwi Septiyanto.
Perpisahan itu bukan sekadar pergantian jabatan. Bagi banyak anggota, kepergian AKBP Nur Ichsan meninggalkan kesan mendalam—bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai sosok yang menanamkan nilai keimanan di lingkungan kepolisian.
Selama masa kepemimpinannya, ia dikenal menghidupkan kembali subuh berjamaah, mengaktifkan surau, hingga mendorong berdirinya masjid di lingkungan Mapolres. Langkah tersebut perlahan membentuk suasana spiritual yang kuat di tengah tugas kepolisian yang penuh tantangan.
Kebiasaan sederhana namun konsisten itu kini menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Banyak personel merasa kehilangan sosok pemimpin yang tidak hanya tegas dalam tugas, tetapi juga menghadirkan keteduhan dalam keseharian.
“Saya beserta keluarga mengucapkan terima kasih kepada seluruh personel Polres Tanah Datar dan Polsek jajaran atas kebersamaan selama ini. Saya juga memohon maaf apabila selama memimpin terdapat kekhilafan,” ujar AKBP Nur Ichsan dengan penuh ketulusan.
Sementara itu, tongkat estafet kepemimpinan kini beralih kepada AKBP Marwan Fajrin. Disambut dengan hangat melalui tradisi Pedang Pora, ia menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pengabdian serta menjaga nilai-nilai baik yang telah ditanamkan sebelumnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas sambutan yang diberikan. Harapan kami dapat diterima di keluarga besar Polres Tanah Datar dan bersama-sama melaksanakan tugas ke depan,” ucapnya.
Prosesi serah terima jabatan diawali dengan penyambutan Kapolres baru, dilanjutkan laporan situasi serta penyerahan kondisi satuan dari pejabat lama kepada pejabat baru. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan apel kesatuan yang diikuti seluruh personel.
Di akhir acara, suasana kembali menghangat—salaman, pelukan, dan doa mengiringi langkah kepergian.
Tangis yang jatuh hari itu menjadi saksi bahwa pengabdian yang tulus akan selalu meninggalkan jejak, tak hanya dalam tugas, tetapi juga di hati. (Dioni)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar