SOLOK — Upaya menekan angka kematian anak akibat komplikasi akut Diabetes Melitus (DM) terus dilakukan RSUD Mohammad Natsir Kota Solok. Melalui inovasi pelayanan keperawatan bernama “Diary Diana” (Diary Diabetes ANAk), rumah sakit menghadirkan solusi edukasi terstruktur untuk membantu pasien anak penderita diabetes dan keluarga dalam mengontrol gula darah serta meningkatkan kepatuhan perawatan di rumah.
Inovasi yang digagas oleh perawat RSUD Mohammad Natsir ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi meningkatnya kasus diabetes pada anak, khususnya risiko terjadinya Ketoasidosis Diabetikum (KAD) yang dapat mengancam keselamatan pasien apabila terlambat ditangani.
Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kasus Diabetes Melitus pada anak usia 0–18 tahun mengalami peningkatan hingga 100 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena banyak pasien anak datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami komplikasi berat.
Di RSUD Mohammad Natsir, sepanjang Januari hingga November 2024 tercatat lima kasus KAD pada anak, dengan dua pasien di antaranya meninggal dunia akibat keterlambatan mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, periode Desember 2024 hingga Desember 2025 kembali ditemukan tujuh kasus KAD anak dengan satu kasus meninggal dunia.
Hasil evaluasi dan observasi yang dilakukan tim kesehatan menunjukkan bahwa salah satu penyebab tingginya risiko kejadian KAD berulang adalah kurang optimalnya pengelolaan diabetes di rumah. Beberapa faktor yang ditemukan antara lain ketidakpatuhan terhadap pola diet, kesalahan dalam pemberian dosis insulin, serta keterbatasan pemahaman orang tua dalam melakukan perawatan mandiri.
Melihat kondisi tersebut, RSUD Mohammad Natsir menghadirkan Diary Diana sebagai media pendamping bagi pasien dan keluarga. Buku ini dirancang untuk membantu orang tua melakukan pencatatan rutin terkait kadar gula darah, jadwal pemberian insulin, pola makan, aktivitas anak, hingga tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai.
Melalui buku kendali khusus Diary Diana, sistem edukasi pasien kini diubah menjadi lebih terstruktur dengan konsep satu pintu dan berkelanjutan. Proses edukasi diawali dengan penandatanganan kontrak waktu antara ibu pasien dengan tim medis yang terdiri dari Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), perawat, dan ahli gizi.
Tim medis secara terpadu memberikan edukasi kepada ibu pasien menggunakan buku Diary Diana yang telah disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian anak. Orang tua kemudian dibimbing secara langsung untuk memahami cara mengisi buku secara mandiri, melakukan pemantauan kadar gula darah, hingga menentukan dosis insulin harian secara tepat sesuai arahan tenaga kesehatan.
Evaluasi pemahaman dan keterampilan ibu pasien dilakukan kembali pada hari berikutnya oleh tim medis. Pasien anak baru diperbolehkan pulang apabila kondisi klinis sudah membaik serta orang tua, khususnya ibu pasien, dinilai telah mampu dan memahami sepenuhnya tata cara manajemen perawatan diabetes anak di rumah.
Setelah melalui masa uji coba sejak 14 Desember 2024 dan mulai diterapkan secara penuh pada 4 Februari 2025, inovasi pelayanan publik yang sederhana, murah, dan aplikatif ini menunjukkan hasil positif.
Penerapan komprehensif buku Diary Diana terbukti mampu meningkatkan pengetahuan orang tua secara signifikan, membantu keluarga melakukan kontrol gula darah anak secara mandiri di rumah, serta menurunkan angka kejadian pasien anak dengan KAD berulang yang mendapatkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Mohammad Natsir.
Direktur RSUD Mohammad Natsir Kota Solok, dr. Elvi Fitraneti, Sp.PD, FINASIM, mengatakan pada Selasa (7/7/2026), inovasi pelayanan seperti Diary Diana merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan, khususnya bagi pasien anak dengan diabetes.
“Pendampingan pasien tidak hanya dilakukan saat berada di rumah sakit, tetapi juga harus berlanjut ketika pasien kembali ke rumah. ( Dioni )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar