SOLOK SELATAN.SumbarMaju.com — Komoditas jagung di Kabupaten Solok Selatan terus menunjukkan geliat positif dan berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Hingga Juli 2026, realisasi produksi jagung di daerah itu telah mencapai 39.158 ton, dengan produksi sepanjang tahun 2026 diproyeksikan menembus 70 ribu hingga 75 ribu ton.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi sektor pertanian, khususnya komoditas jagung, di Kabupaten Solok Selatan.
Berdasarkan laporan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Solok Selatan, luas tanam jagung hingga Juli 2026 mencapai 4.251,50 hektare, sedangkan luas panen secara akumulatif mencapai 6.992,50 hektare.
Dengan rata-rata produktivitas sekitar 5,6 ton per hektare, produksi jagung diperkirakan masih akan terus meningkat hingga akhir 2026. Proyeksi 70–75 ribu ton tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa jagung memiliki prospek besar untuk terus dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Saat dikonfirmasi media, Kepala DKPP Kabupaten Solok Selatan, Admi, menyampaikan komitmen pemerintah untuk terus mendukung pengembangan jagung di daerah.
“InsyaAllah pemerintah membantu dan mendorong,” ujar Admi.
Menurutnya, dukungan pemerintah menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan produksi sekaligus memperkuat sektor pertanian agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para petani jagung.
Pengembangan jagung juga memiliki prospek pemasaran yang cukup luas. Hasil panen dari Solok Selatan saat ini dipasarkan ke sejumlah daerah, antara lain Kota Padang untuk kebutuhan pabrik pakan ternak, serta Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam.
Di tingkat petani, harga pembelian jagung berada pada kisaran Rp5.800 hingga Rp6.200 per kilogram, tergantung kadar air hasil panen. Potensi produksi yang besar dan pasar yang tersedia menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan apabila didukung dengan tata niaga yang lebih kuat.
Namun demikian, pengembangan jagung masih menghadapi persoalan kelembagaan dan permodalan. Hingga saat ini belum terdapat kelembagaan resmi seperti BUMNag, koperasi tani atau BUMD yang secara khusus menampung dan mengelola hasil panen jagung secara terintegrasi.
Di tempat terpisah, Dr. Novirman, Staf Ahli di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, saat dikonfirmasi media di Sangir, Sabtu (8/8/2026), menambahkan bahwa potensi jagung yang dimiliki Solok Selatan perlu terus dikembangkan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Menurut Novirman, peningkatan produksi hendaknya tidak berhenti pada persoalan budidaya semata. Penguatan petani, kelembagaan, pemasaran dan pengolahan hasil juga menjadi bagian penting agar komoditas jagung mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah.
“Potensi jagung ini harus kita dorong bersama.
Jangan hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi bagaimana hasil produksi tersebut juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujarnya.
Laporan DKPP juga merekomendasikan penguatan penyediaan benih jagung unggul, pendampingan dan edukasi teknis secara berkelanjutan, serta modernisasi pascapanen melalui dukungan alat dan mesin pertanian seperti corn sheller dan dryer.
Selain itu, penguatan kelembagaan dan hilirisasi dinilai menjadi langkah strategis ke depan. Kelompok tani atau kelembagaan lokal yang memiliki ketahanan modal dapat diarahkan untuk masuk ke pengembangan pakan jadi sehingga jagung tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah di dalam daerah.
Dengan realisasi produksi yang telah mencapai 39.158 ton dan proyeksi hingga 75 ribu ton pada 2026, jagung kini menjadi salah satu komoditas yang memiliki prospek besar di Solok Selatan.
Sinergi pemerintah, petani, pelaku usaha dan kelembagaan ekonomi masyarakat menjadi kunci agar geliat jagung tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga benar-benar bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.( Yef)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar