Padang.SumbarMaju.com - Jombang kembali menjadi saksi sejarah perjalanan Nahdlatul Ulama. Dari tanah yang melahirkan dan membesarkan banyak ulama, ribuan langkah Nahdliyin bertemu membawa satu harapan besar: agar NU tetap menjadi rumah besar umat yang teduh, kuat, bermartabat, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Muktamar NU ke-35 tahun 2026 bukan sekadar perhelatan organisasi. Ia adalah momentum untuk menentukan arah perjalanan sebuah jam’iyyah yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan keagamaan, sosial, pendidikan, kebangsaan, bahkan peradaban Indonesia.
Karena itu, wajar jika dinamika menjelang dan selama Muktamar berlangsung terasa begitu kuat. Nama-nama calon pemimpin bermunculan, dukungan mengalir, perbedaan pandangan mengemuka, dan masing-masing kelompok tentu memiliki argumentasi serta harapan.
Namun ada satu pertanyaan penting yang harus terus kita jaga: apakah kita sedang mencari siapa yang paling berkuasa, atau siapa yang paling siap berkhidmah?
Jangan Sampai Muktamar Kehilangan Ruhnya.Muktamar pada hakikatnya adalah forum musyawarah, bukan gelanggang pertarungan kepentingan. Perbedaan pilihan adalah keniscayaan, tetapi persaudaraan adalah kewajiban yang harus dijaga.
Jangan sampai kontestasi kepemimpinan justru membuat kita lupa bahwa NU dibangun bukan untuk mengejar jabatan, melainkan untuk mengabdi kepada agama, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Jabatan di NU bukanlah hadiah. Ia adalah amanah.
Karena itu, siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu membuktikan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memenangkan kontestasi, tetapi kemampuan merawat persatuan setelah kontestasi selesai.
Menang dalam pemilihan tetapi kehilangan ukhuwah adalah kemenangan yang mahal harganya. Sebaliknya, menerima hasil dengan lapang dada demi keutuhan NU adalah bentuk kemenangan moral yang jauh lebih tinggi.
NU Tidak Boleh Terjebak pada Politik Kekuasaan
NU harus tetap kritis terhadap dirinya sendiri. Organisasi sebesar NU tidak boleh terjebak dalam perebutan pengaruh, transaksi kepentingan, atau politik kekuasaan yang membuat substansi khidmah menjadi kabur.
Kepemimpinan NU harus kembali kepada ukuran yang lebih mendasar: keilmuan, akhlak, integritas, kapasitas, keteladanan, serta keberpihakan kepada kepentingan umat.
Warga Nahdliyin membutuhkan pemimpin yang hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Pemimpin yang mampu mendengar suara pesantren, madrasah, guru, santri, petani, nelayan, kaum muda, dan masyarakat kecil.
NU tidak kekurangan orang pintar. Yang harus dicari adalah orang yang mampu menyatukan kecerdasan dengan ketulusan, kekuasaan dengan tanggung jawab, dan kepemimpinan dengan keteladanan.
Menjaga Sanad Perjuangan Para Muassis
Jombang memberikan pesan yang sangat jelas: jangan pernah memutus mata rantai perjuangan para muassis.
Para pendiri NU mewariskan organisasi ini bukan untuk menjadi kendaraan kepentingan pribadi. Mereka meletakkan dasar perjuangan dengan ilmu, keikhlasan, pengorbanan, dan kecintaan kepada umat.
Maka siapa pun yang menerima amanah kepemimpinan harus memahami bahwa yang dipikul bukan sekadar jabatan, tetapi beban sejarah.
Kepemimpinan hari ini akan menjadi catatan sejarah bagi generasi NU di masa depan. Apakah kita mewariskan organisasi yang semakin kokoh atau justru meninggalkan luka akibat perpecahan?
Pertanyaan itu harus dijawab dengan sikap, bukan sekadar pidato.
Menjadi Pelita, Bukan Menambah Kegelapan
Di tengah suasana Muktamar yang dinamis, NU membutuhkan pelita.
Pelita tidak bertanya siapa yang berada di sebelah kanan atau kiri sebelum memberikan cahaya. Ia menerangi semuanya.
Begitu pula pemimpin NU. Setelah terpilih, ia bukan lagi milik kelompok pendukungnya. Ia adalah pemimpin bagi seluruh warga Nahdliyin.
Mereka yang berbeda pilihan harus dirangkul.
Mereka yang kecewa harus didengarkan. Mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan harus tetap dihormati.
Sebab ukuran kepemimpinan bukan terletak pada seberapa banyak orang yang tunduk, tetapi seberapa banyak hati yang mampu disatukan.
Setelah Muktamar, Kita Tetap Bersaudara
Muktamar pada akhirnya akan selesai. Perdebatan akan berhenti.
Suara-suara dukungan akan mereda. Para peserta akan kembali ke daerah masing-masing.
Yang tersisa kemudian adalah NU dan seluruh warga Nahdliyin.
Karena itu, jangan sampai setelah Muktamar kita mewarisi dua kubu yang saling mencurigai. Jangan sampai perbedaan pilihan berubah menjadi permusuhan. Jangan sampai kepentingan sesaat mengorbankan persaudaraan yang dibangun selama puluhan tahun.
Siapa pun yang terpilih, mari kita hormati. Siapa pun yang belum mendapatkan amanah, mari tetap berkhidmah.
Sebab NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi sekadar pertarungan nama dan jabatan.
Dari arena Muktamar NU ke-35 di Jombang, kita berharap lahir kepemimpinan yang bukan hanya mampu memenangkan forum, tetapi mampu memenangkan hati umat.
Pemimpin yang tidak sibuk membangun tembok kekuasaan, tetapi membangun jembatan persaudaraan.
Pemimpin yang tidak menjadikan NU sebagai tangga menuju kekuasaan, tetapi menjadikan kekuasaan—jika memang berada di tangannya—sebagai sarana untuk memperluas khidmah.
Muktamar boleh gaduh,Perbedaan boleh tajam,Kontestasi boleh berlangsung keras.
Tetapi jangan pernah biarkan ukhuwah padam.
Sebab ketika lampu arena Muktamar dipadamkan dan seluruh peserta pulang ke daerah masing-masing, yang akan menentukan masa depan NU bukan lagi siapa yang menang dalam kontestasi, melainkan siapa yang mampu menjaga NU tetap utuh.
Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada para ulama dan peserta Muktamar dalam menentukan pemimpin terbaik, menjaga hati dari kepentingan yang berlebihan, serta menuntun seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama agar tetap berada di jalan khidmah.
Dari Jombang kita belajar: kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri, tetapi siapa yang paling kuat memikul amanah,
Muktamar akan usai,Jabatan akan berganti. Tetapi khidmah kepada umat dan bangsa tidak boleh berhenti.( Yef)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar