Penyatuan Kecerdasan dan Ketulusan: Membaca Harapan Muktamar ke-35 NU di Jombang. Oleh: Dr. H. Afrizen, M.Pd, Kamis, 27/8/2026

Penyatuan Kecerdasan dan Ketulusan: Membaca Harapan Muktamar ke-35 NU di Jombang. Oleh: Dr. H. Afrizen, M.Pd, Kamis, 27/8/2026

Redaksi

Jombang.SumbarMaju. Com Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi kemasyarakatan. NU adalah rumah besar yang dibangun dari tradisi keilmuan, keteladanan ulama, kekuatan pesantren, serta pengabdian yang panjang bagi umat dan bangsa. Dari rahim NU lahir ulama, intelektual, akademisi, birokrat, teknokrat, politisi, dan tokoh masyarakat yang memberikan warna dalam perjalanan Indonesia.

NU tidak pernah kekurangan orang pintar. Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa organisasi sebesar NU tidak cukup hanya dipimpin oleh orang yang memiliki kecerdasan intelektual.


 Kepemimpinan NU membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: kecerdasan yang dibimbing ketulusan, dan ketulusan yang ditopang kecerdasan.

Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, pertanyaan penting bukan semata-mata siapa yang akan menduduki posisi strategis dalam kepemimpinan NU. 


Pertanyaan yang jauh lebih fundamental adalah: kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU untuk menghadapi masa depan?

Jawabannya adalah kepemimpinan yang mampu menyatukan akal dan hati, strategi dan moral, kecerdasan dan keikhlasan.


Kecerdasan Saja Tidak Cukup


Dalam tradisi Islam, kecerdasan atau fathanah merupakan salah satu sifat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. 


Pemimpin harus mampu membaca perubahan, memahami persoalan, menyusun strategi, serta mengambil keputusan secara tepat.


Namun, kecerdasan yang tidak disertai ketulusan dapat berubah menjadi sekadar instrumen untuk mencapai kepentingan pribadi atau kelompok.

Kepemimpinan bisa menjadi sangat pandai berbicara, tetapi kehilangan keberpihakan kepada umat. Bisa sangat mahir menyusun strategi, tetapi lemah dalam menjaga amanah. Bahkan, kecerdasan dapat menjadi alat untuk membenarkan berbagai kalkulasi pragmatis apabila tidak dikendalikan oleh moral dan keikhlasan.


Karena itu, NU membutuhkan kecerdasan yang tidak hanya tajam dalam berpikir, tetapi juga jernih dalam niat.


Pemimpin NU tidak cukup hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi harus mampu memahami kegelisahan warga Nahdliyin. Tidak cukup hanya mampu membaca peta politik, ekonomi, dan teknologi, tetapi juga harus mampu membaca denyut kehidupan masyarakat kecil.


Ketulusan Juga Membutuhkan Kecerdasan

Sebaliknya, ketulusan tanpa kecerdasan juga menghadapi persoalan.

Niat baik memang merupakan fondasi penting dalam perjuangan. Tetapi organisasi besar tidak dapat berjalan hanya dengan niat baik. Ia membutuhkan tata kelola, perencanaan, profesionalisme, kemampuan membaca zaman, serta keberanian melakukan pembaruan.


Tantangan NU hari ini jauh lebih kompleks. Perubahan teknologi digital, kecerdasan buatan, ekonomi global, perubahan sosial, politik identitas, persoalan lingkungan, hingga tantangan generasi muda membutuhkan respons yang cerdas dan terukur.

Karena itu, ketulusan harus berjalan bersama kompetensi.


Inilah titik temu yang perlu direnungkan dalam Muktamar ke-35: jangan mempertentangkan kecerdasan dengan ketulusan. Keduanya justru harus dipersatukan.


Kecerdasan memberikan arah, sementara ketulusan memberikan tujuan. Kecerdasan menyusun strategi, sedangkan ketulusan memastikan strategi itu tetap berada di jalan kemaslahatan.


Jombang dan Pesan Para Muassis


Jombang bukan sekadar lokasi penyelenggaraan Muktamar. Jombang memiliki kedalaman sejarah dan spiritual bagi NU.


Dari tanah ini lahir dan tumbuh para muassis NU, termasuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri. Mereka bukan hanya meninggalkan nama besar, tetapi juga mewariskan tradisi perjuangan yang bertumpu pada ilmu, adab, persatuan, dan pengabdian.


Karena itu, kembalinya Muktamar ke Jombang semestinya tidak hanya dibaca sebagai peristiwa organisatoris. Ia harus menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi:


 apakah perjalanan NU hari ini masih memancarkan spirit para pendirinya?

Para muassis mengajarkan bahwa organisasi bukanlah tempat mencari kemuliaan pribadi. Organisasi adalah ruang untuk berkhidmat.


Jabatan bukan tujuan. Jabatan adalah amanah.

Kemenangan dalam kontestasi bukanlah akhir perjuangan. Justru setelah terpilih, tanggung jawab yang sesungguhnya dimulai.


Muktamar Jangan Menjadi Arena Saling Mengalahkan

Muktamar memang memiliki dinamika. 


Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar. Bahkan perbedaan gagasan dapat menjadi energi positif apabila dikelola dengan kedewasaan.


Yang perlu dihindari adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan, kontestasi berubah menjadi konflik, dan kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan jam'iyyah.

NU terlalu besar untuk dipertaruhkan hanya demi kepentingan sesaat.


Muktamar seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, bukan memperuncing perbedaan. Menjadi tempat mencari jalan keluar, bukan mencari siapa yang harus disalahkan.


Para peserta Muktamar harus mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa tradisi tasamuh, tawassuth, tawazun, dan i'tidal bukan sekadar istilah yang indah diucapkan, tetapi benar-benar hidup dalam proses pengambilan keputusan.


Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji.

Merawat NU di Tengah Perubahan Zaman

NU menghadapi generasi baru yang tumbuh dalam dunia digital. Anak-anak muda Nahdliyin hari ini tidak hanya belajar melalui pesantren dan madrasah, tetapi juga melalui media sosial, platform digital, dan berbagai sumber pengetahuan global.


Dunia mereka berubah sangat cepat.

Karena itu, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga akar tradisi sekaligus berani membuka jendela masa depan.


Tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan. Sebaliknya, modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan identitas.


Prinsip al-muhafazhatu 'ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah harus terus dihidupkan: menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

NU harus tetap berakar kuat, tetapi tidak boleh kehilangan kemampuan untuk tumbuh.


Kemandirian Harus Menjadi Agenda Besar

Salah satu tantangan penting NU ke depan adalah memperkuat kemandirian.


Kemandirian ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan institusi harus menjadi agenda serius.


Organisasi sebesar NU tidak boleh hanya menjadi objek dari berbagai kepentingan. NU harus memiliki kekuatan untuk menentukan agenda perjuangannya sendiri.


Kemandirian bukan berarti menutup diri dari kerja sama. Justru kemandirian memungkinkan NU bekerja sama dengan siapa pun secara bermartabat, tanpa kehilangan prinsip dan independensi.


Pemimpin masa depan NU harus mampu mengubah potensi besar warga Nahdliyin menjadi kekuatan nyata bagi kemaslahatan.


Muktamar sebagai Momentum Pemurnian Khidmah

Pada akhirnya, Muktamar ke-35 harus dikembalikan kepada makna paling mendasar dari organisasi: khidmah.

Siapa pun yang terpilih nantinya, ia harus menyadari bahwa amanah kepemimpinan bukanlah mahkota, melainkan beban tanggung jawab.


Pemimpin yang baik bukan yang paling sering disebut namanya, tetapi yang paling banyak menghadirkan manfaat.

Bukan yang paling banyak mendapatkan penghormatan, tetapi yang paling siap memberikan pengabdian.

Bukan yang paling kuat dalam mempertahankan kekuasaan, tetapi yang paling kuat menjaga amanah.


Dari Jombang, NU diharapkan menemukan kembali keseimbangan antara kecerdasan dan ketulusan.


Kecerdasan tanpa ketulusan dapat kehilangan arah. Ketulusan tanpa kecerdasan dapat kehilangan daya.


Tetapi ketika keduanya bersatu, lahirlah kepemimpinan yang bukan hanya mampu mengelola organisasi, melainkan mampu menjaga marwah perjuangan.


Muktamar ke-35 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, memperluas kemaslahatan, dan meneguhkan kembali bahwa NU hadir bukan untuk dirinya sendiri, 

NU hadir untuk umat, 

NU hadir untuk bangsa.

Dan pada akhirnya, NU harus terus hadir sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang menyejukkan Indonesia.


Semoga dari tanah Jombang lahir kepemimpinan yang cerdas dalam membaca zaman, tulus dalam berkhidmat, kuat dalam memegang prinsip, dan rendah hati dalam menjalankan amanah.


Sebab NU tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu memimpin organisasi.


NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga ruh perjuangan.( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar