SURABAYA, sumbarmaju.com - Munas (Musyawarah Nasional) Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) Indonesia sering kali menjadi ajang unjuk kebudayaan nasional yang sangat meriah. Ketika delegasi dari Sumatra Barat menghadiri perhelatan berskala nasional di Surabaya berlangsung dari tanggal 6 sampai 8 November 2026, pakaian adat Suku Mentawai menjadi salah satu identitas budaya unik yang menonjol dan menarik perhatian banyak peserta.
Berbeda dari pakaian adat Minangkabau pada umumnya yang sarat dengan kain tenun bersulam emas,
Pakaian adat Mentawai mengusung filosofi kedekatan yang mendalam dengan alam. Karakteristik utama dari pakaian tradisional bumi Sikerey (Mentawai) saat ditampilkan dalam acara nasional Munas, sekitar dan Expo hasta karya warga pendidikan nonformal di Surabaya.
Pakaian Utama Pria (Kabit) berupa Celana cawat tradisional yang terbuat dari tempaan kulit kayu pohon baiko atau pohon sukun. Sedangkan pakaian Utama Wanita (Abak) Rok atau bawahan yang awalnya terbuat dari anyaman daun sagu atau dedaunan alam, meski untuk keperluan acara formal/nasional biasanya telah disesuaikan dengan kain tenun lokal atau bahan modifikasi demi kenyamanan tanpa menghilangkan esensi aslinya.
Hal yang menarik bagi seluruh peserta Munas PKBM Indonesia adalah Hiasan Kepala disebut Lekke, merupakan Ikat kepala ikonik yang dihiasi oleh bulu-bulu burung (seperti burung enggang atau ayam hutan) serta manik-manik berwarna kontras.
Peserta Munas PKBM juga memakai Aksesoris Tubuh berupa Kalung manik-manik khas (Innu), gelang lengan, serta dedaunan hijau segar yang diselipkan di pinggang atau lengan sebagai simbol penghormatan kepada roh alam (Rereiket).
Penggunaan pakaian adat ini di forum seperti Munas PKBM tidak hanya berfungsi sebagai kostum seremonial, melainkan juga sarana edukasi budaya untuk mengenalkan program keaksaraan, kearifan lokal, dan pendidikan berbasis komunitas adat terpencil yang menjadi salah satu fokus perjuangan PKBM di wilayah kepulauan.
Peserta Munas FK PKBM Indonesia dan duta Sumatera Barat berkekuatan hampir 40 orang juga menampilkan berbagai pakaian adat daerah masing-masing diantaranya dari Agam, Sijunjung, Limapuluh Kota, Padang, Tanah Datar, Payakumbuh, Pesisir selatan, Darmasraya, SolokPadang Panjang, Pasaman dan Kepulauan Mentawai.
Heronimus, S.Kom. DPD FK PKBM Kepulauan Mentawai bersama Joni Marpen dan Farida Nurhayati Satako, cukup bangga dan senang mengikuti Munas sekaligus memperkenalkan budaya Sikerei Mentawai di ajang nasional Munas FK PKBM di Surabaya, demikian dilaporkan Heronimus disela-sela kegiatan Munas PKBM di Graha Sawunggaling, Kampus Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jawa Timur. (Yun.S)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar