Gunung Talang, SumbarMaju.com – Di tengah tantangan ekonomi yang semakin berat, perempuan-perempuan di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, bangkit dengan membentuk Komunitas Pengrajin Solok. Wadah ini dipelopori oleh Ria Batik, seorang pengrajin asal Talang, yang melihat banyak potensi perempuan nagari yang selama ini belum tergarap.
Ria Batik menuturkan, komunitas ini lahir dari kepedulian dan kegelisahan. Banyak perempuan memiliki keterampilan membuat kerajinan, namun belum dikelola dengan baik untuk menambah penghasilan. “Saya melihat ada keahlian luar biasa dari ibu-ibu di Talang dan sekitarnya. Mereka bisa menyulam, menenun, membuat batik, dan berbagai kerajinan tangan. Sayang kalau potensi itu hanya menjadi hobi. Harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” ungkap Ria.
Potensi Warisan Kerajinan Talang, Nagari Talang menyimpan warisan budaya kerajinan yang kaya. Mulai dari sulaman jahit kapalo samek, sulaman benang emas, anyaman bambu, hingga batik khas Solok. Setiap karya bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga nilai ekonomi tinggi.
Jika dikelola serius, kerajinan ini bisa menjadi produk unggulan daerah sekaligus daya tarik wisata budaya. “Kita memiliki modal tradisi yang sangat berharga. Tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi kreatif,” tambah Ria.
Dari Kreativitas Menjadi Ekonomi, Komunitas Pengrajin Solok tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang belajar dan bertumbuh bersama. Para anggota dikenalkan dengan cara mengemas produk agar lebih bernilai, belajar membangun merek (branding), serta menggunakan media sosial untuk memperluas pasar.
Banyak anggota yang awalnya hanya menyalurkan hobi, kini mulai merasakan manfaat nyata. Hasil kerajinan mereka mampu menambah penghasilan keluarga, bahkan sebagian sudah mulai dipasarkan ke luar daerah.
“Awalnya saya hanya membuat sulaman untuk dipakai sendiri atau untuk keluarga. Sekarang, berkat komunitas, saya belajar menjualnya dengan kemasan lebih menarik. Ternyata banyak yang tertarik, bahkan ada yang memesan dari luar kota,” tutur Wina salah seorang anggota komunitas dari Talang.
Pemerintah Harus Mengayomi
Meski lahir dari semangat swadaya, komunitas ini menyadari bahwa dukungan pemerintah sangat dibutuhkan. Para pengrajin menilai, pemerintah seharusnya hadir mengayomi, mendampingi, dan membuka peluang kerja sama lintas instansi agar komunitas bisa berkembang pesat.
Beberapa hal yang sangat diharapkan antara lain:
1. Pelatihan dan Pendampingan Teknis – agar produk lebih inovatif dan sesuai dengan tren pasar modern.
2. Fasilitasi Akses Modal – baik dalam bentuk bantuan peralatan, bahan baku, maupun pinjaman ramah UMKM.
3. Promosi dan Pemasaran – melalui pameran daerah, nasional, hingga internasional serta dukungan digital marketing.
4. Pusat Galeri Kerajinan Solok – sebagai etalase tetap produk lokal yang bisa dikunjungi wisatawan.
5. Program Jangka Panjang – bukan bantuan sesaat, melainkan kebijakan berkelanjutan yang menjadikan pengrajin mitra pembangunan daerah.
Menurut Ria, sudah saatnya pemerintah melalui instansi terkait seperti Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, serta Dinas Pariwisata memberi perhatian lebih. “Kami berharap pemerintah tidak sekadar hadir memberi bantuan, tapi benar-benar mengayomi. Pemerintah harus mencari peluang, membuka akses, dan mencarikan jalan pemasaran yang jelas bagi kerajinan lokal,” tegasnya.
Harapan Perempuan Solok
Bagi perempuan Solok, komunitas ini bukan hanya ruang untuk berkreasi, tetapi juga simbol kebangkitan. Mereka berharap pemerintah dan berbagai pihak benar-benar melihat potensi perempuan sebagai bagian penting pembangunan daerah.
“Kami ingin perempuan Solok diberi ruang lebih luas untuk berkarya, dilibatkan dalam program pengembangan ekonomi kreatif, dan didukung dengan akses pasar yang lebih terbuka. Kami percaya perempuan bisa mandiri, membantu ekonomi keluarga, dan tetap menjaga warisan budaya daerah,” ujar Fitri, anggota komunitas lainnya.
Hal senada juga disampaikan anggota lain, Yuliana. Ia berharap agar pemerintah tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi hadir dengan program berkelanjutan. “Kami butuh pendampingan yang berkesinambungan. Jangan hanya sekali datang lalu selesai. Kalau didampingi terus, kami bisa melangkah lebih jauh,” ucapnya penuh harap.
Harapan ini mencerminkan tekad para perempuan Solok untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berperan aktif dalam memajukan ekonomi dan melestarikan tradisi. Mereka percaya bahwa perempuan bisa menjadi motor penggerak perubahan di nagari.
Dukungan dari DPRD Provinsi
Aspirasi para pengrajin tersebut mendapat sambutan positif dari Agus Syahdeman, SE, Anggota DPRD Provinsi Sumbar asal Solok. Ia menilai keberadaan komunitas ini sangat penting bagi penguatan ekonomi sekaligus pelestarian budaya.
“Saya sangat bangga dengan semangat ibu-ibu pengrajin di Solok. Mereka bukan hanya menghasilkan karya yang indah, tapi juga ikut menopang ekonomi keluarga. Saya akan memperjuangkan agar program pelatihan, pemasaran, dan pengembangan produk kreatif dari Solok masuk dalam agenda provinsi,” ujarnya.
Agus menambahkan, pengrajin harus masuk dalam peta pembangunan ekonomi kreatif Sumatera Barat. “Jika pemerintah konsisten mendukung, kerajinan Solok akan mampu bersaing, tidak hanya di Sumbar, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Ekonomi
Bagi anggota komunitas, bergabung tidak hanya soal uang. Ada kebanggaan ketika karya dihargai, ada rasa percaya diri yang tumbuh ketika bisa tampil dalam pameran, dan ada kebersamaan yang membuat hidup lebih berwarna.
Komunitas ini juga menjadi wadah silaturahmi sekaligus terapi sosial. Setiap pertemuan diwarnai obrolan hangat, saling berbagi pengalaman, dan dukungan moral. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, komunitas menjadi ruang penyembuhan sosial (social healing) bagi anggotanya.
Menuju Kemandirian Perempuan Solok
Dengan semangat kebersamaan, Komunitas Pengrajin Solok kini menjadi simbol kemandirian perempuan. Mereka bertekad melestarikan tradisi leluhur sekaligus menjadikan kerajinan sebagai pilar ekonomi baru di Kabupaten Solok.
“Kerajinan bagi kami bukan sekadar pekerjaan tangan, melainkan juga karya hati. Setiap sulaman, setiap anyaman, setiap batik memiliki cerita. Kami ingin cerita itu didengar lebih luas, sehingga Solok dikenal bukan hanya karena alamnya yang indah, tetapi juga karena kreativitas warganya,” tutup Ria Batik penuh harap. (Yef)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar