MATUR, sumbarmaju.com - Silaturahmi Akbar Ranah jo Rantau Matur Hilia 2026 digelar di Lapangan Hijau Matur, bertema “Basamo Mambangun Kampuang, Maikek Tali Persaudaraan” adalah ajang mempererat hubungan masyarakat kampung dan perantau melalui kegiatan budaya dan kebersamaan berlangsung sukses.
Silaturrahmi akbar Ranah jo Rantau Matua Hilia 2026, dihadiri Bupati Agam diwakili Asisten III Setda Agam, Syatria, sekaligus membuka Lomba Marandang diikuti 8 Jorong yang ada di nagari Matua Hilia ditandai dengan pemukulan beduk.
Syatria, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kebersamaan antara masyarakat ranah dan rantau, tetapi juga memiliki nilai edukasi budaya bagi generasi muda, bersama Bundo Kanduang.
Peran bundo kanduang dalam mewariskan pengetahuan tentang cara memasak randang kepada generasi muda, termasuk kepada perantau yang pulang ke kampung halaman dapat mewariskan kepada generasi penerus, baik yang tinggal di kampung maupun di perantauan.
Syatria berharap kegiatan marandang tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pemuka masyarakat, Datuak Sungu Dirajo, mengapresiasi pelaksanaan Lomba Marandang antar jorong di Nagari Matua Hilia.
Menurutnya, tradisi marandang tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memasak, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan dan semangat gotong royong dalam masyarakat Minangkabau, dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjadi agenda rutin yang memperkuat hubungan antara masyarakat ranah dan rantau. Dengan demikian, potensi budaya serta ekonomi daerah dapat berkembang secara berkelanjutan, tambah Datuk Sungu Dirajo.
Ketua panitia Abdul Arif menyebutkan kegiatan ini bertujuan mempererat tali silaturahmi antara masyarakat ranah dan perantau yang pulang kampung. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan serta melestarikan tradisi marandang kepada generasi muda dan masyarakat perantau.
Delapan jorong yang berpartisipasi dalam Marandang adalah Jorong Matur Katik, Aia Sumpu, Batu Baselo, Aia Taganang, Pasar Matur, Banda Gadang, Labuang Lurah Taganang, dan Bukik Siriah.
Keterlibatan seluruh jorong tersebut menunjukkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga tradisi kuliner khas Minangkabau, demikian ditambahkannya. (Yun.S)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar