Jelang Pemilihan PAW Wali Nagari Nagari Saniang Baka, Adu Gagasan Lebih Penting dari Menjatuhkan Lawan.

Jelang Pemilihan PAW Wali Nagari Nagari Saniang Baka, Adu Gagasan Lebih Penting dari Menjatuhkan Lawan.

Redaksi

Oleh: Yefrimon S. Ag / Media SumbarMaju. Com/Biro Sumbar, Minggu, 21/6/2026.

Nagari Saniang Baka, SumbarMaju.com — Tahapan Pemilihan Pergantian Antar Waktu (PAW) Wali Nagari Nagari Saniang Baka kini menjadi perhatian luas masyarakat.


 Setelah panitia menetapkan tiga kandidat yang akan maju dalam kontestasi, yakni Dakhrizal, Ade Patria, dan Antri Sopen, dinamika politik di tengah masyarakat mulai bergerak semakin aktif.

Berbagai pembicaraan berkembang di tengah warga, mulai dari prediksi peluang masing-masing kandidat, kekuatan basis dukungan, hingga siapa sosok yang dinilai paling layak memimpin nagari ke depan.


Pemilihan PAW kali ini diperkirakan berlangsung ketat. Ketiga kandidat sama-sama memiliki pengaruh dan jaringan sosial di tengah masyarakat, sehingga persaingan dipastikan berjalan dinamis dan menarik untuk diikuti.


Namun di tengah semakin menghangatnya kontestasi, muncul fenomena yang cukup disayangkan, yakni kembalinya pola-pola lama dalam praktik persaingan politik lokal. Alih-alih memperkenalkan visi pembangunan, menyampaikan gagasan besar, atau menawarkan program nyata untuk kemajuan nagari, justru mulai terlihat upaya yang diarahkan untuk menjatuhkan kandidat lain.


Cara yang digunakan pun bukan hal baru. Sebagian pihak dinilai masih mengandalkan strategi lama dengan mencari kelemahan pribadi lawan, mengungkit sisi negatif masa lalu, membangun opini buruk di tengah masyarakat, hingga menyebarkan informasi yang belum terverifikasi untuk memengaruhi persepsi publik.


Fenomena ini menjadi catatan serius. Dalam demokrasi yang sehat, persaingan seharusnya dibangun di atas adu kualitas, kapasitas, dan gagasan, bukan melalui upaya merusak reputasi lawan. Ketika energi politik lebih banyak dihabiskan untuk menyerang dibanding menawarkan solusi, maka substansi demokrasi mulai bergeser dari tujuan utamanya.


Hal lain yang juga menjadi perhatian adalah munculnya praktik pembusukan pribadi terhadap kandidat tertentu. Persoalan yang berada dalam ruang privat mulai dibawa ke ruang publik untuk dijadikan bahan serangan politik. 


Kehidupan pribadi, urusan keluarga, hingga masa lalu seseorang yang tidak berkaitan langsung dengan kapasitas kepemimpinan, dijadikan alat membentuk opini negatif di tengah masyarakat.


Cara-cara seperti ini jelas tidak mencerminkan kedewasaan berpolitik. 

Jabatan publik memang penting, tetapi cara meraihnya juga harus bermartabat. Pemimpin yang baik semestinya lahir dari proses persaingan yang jujur, sehat, dan terbuka, bukan dari kemenangan yang dibangun melalui perusakan kehormatan orang lain.


Di era digital saat ini, tantangan lain yang tidak kalah serius adalah penyebaran berita hoaks. 

Informasi yang belum tentu benar dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial, grup percakapan, maupun komunikasi informal di tengah masyarakat. 


Sebuah isu yang sengaja dibangun dapat menggiring opini publik dalam waktu singkat, terutama jika masyarakat tidak melakukan verifikasi terlebih dahulu.


Praktik penyebaran hoaks dalam kontestasi politik tidak hanya merugikan kandidat tertentu, tetapi juga merusak kualitas demokrasi secara keseluruhan. 


Ketika masyarakat dibentuk oleh informasi yang tidak benar, maka keputusan politik yang diambil tidak lagi berdasarkan penilaian objektif, melainkan hasil manipulasi opini.


Yang lebih memprihatinkan, serangan terhadap privasi pribadi kandidat kini mulai dianggap sebagai strategi politik yang lumrah. 


Hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan kapasitas kepemimpinan dijadikan konsumsi publik untuk menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. 


Praktik seperti ini tidak pantas dipertontonkan dalam kontestasi memilih pemimpin nagari.


Masyarakat Nagari Saniang Baka tentu sudah cukup matang dalam membaca situasi politik seperti ini. Pemilih hari ini semakin cerdas dalam menilai bahwa calon yang layak dipilih bukan yang paling keras menyerang lawan, tetapi yang memiliki rekam jejak baik, integritas kuat, kemampuan memimpin, pemahaman terhadap persoalan masyarakat, serta visi nyata membangun nagari ke depan.


Pemilihan PAW Wali Nagari bukan sekadar perebutan jabatan administratif. Lebih dari itu, ini adalah momentum penting menentukan arah pembangunan, pelayanan publik, pengelolaan potensi nagari, serta masa depan masyarakat untuk beberapa tahun ke depan.


 Karena itu, masyarakat tidak boleh terjebak dalam permainan isu-isu murahan yang sengaja diciptakan untuk kepentingan politik sesaat.


Nagari Saniang Baka selama ini dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat, persaudaraan, serta budaya musyawarah. 


Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi persatuan sosial tidak boleh dikorbankan hanya karena ambisi kekuasaan. 


Politik datang dan pergi, tetapi dampak konflik sosial akibat persaingan tidak sehat bisa bertahan jauh lebih lama di tengah masyarakat.


Ketiga kandidat yang telah ditetapkan — Dakhrizal, Ade Patria, dan Antri Sopen — memiliki kesempatan yang sama untuk meyakinkan masyarakat. Yang dibutuhkan hari ini bukan tontonan saling menyerang, melainkan pertunjukan gagasan, program, dan komitmen nyata membangun nagari dengan amanah.


Sudah saatnya demokrasi lokal meninggalkan pola lama yang penuh intrik. Politik yang sehat adalah politik yang menjual gagasan, bukan kebencian. Kompetisi yang baik adalah kompetisi yang memperlihatkan kualitas, bukan usaha menghancurkan reputasi pesaing.


Menjelang pemilihan PAW di Nagari Saniang Baka, masyarakat berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan menjaga etika dalam berkompetisi. 


Adu gagasan jauh lebih terhormat daripada menjatuhkan lawan. 

Sebab ketika demokrasi dikotori fitnah, hoaks, pembusukan pribadi, dan serangan terhadap privasi seseorang, maka yang kalah bukan hanya kandidat tertentu, melainkan marwah demokrasi itu sendiri.

(Tim SumbarMaju. Com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar