Dari Panggung Seni untuk Indonesia, “Merajoet Senja” Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan. Oleh : Jacob Ereste

Dari Panggung Seni untuk Indonesia, “Merajoet Senja” Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan. Oleh : Jacob Ereste

Redaksi

JAKARTA, SumbarMaju.com — Menjelang 81 tahun Indonesia merdeka, seni kembali dihadirkan bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai ruang perenungan, penguatan harapan, sekaligus upaya merawat semangat perjuangan.

Gagasan tersebut akan hadir melalui pertunjukan seni “Merajoet Senja”, buah pemikiran Dr. Yudi Latif, yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, 26 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB.


Pementasan ini menghadirkan sejumlah nama yang telah dikenal di dunia seni dan pertunjukan, di antaranya Olivia Zalianty, Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Ariansyah, Edopaha, Tanta Ginting, Isya Saravaty, Fryda Lucyana, Janne Callista, Shanna Shannon dan Ridho Rokhanah.


Dalam rilisnya, Yudi Latif menjelaskan bahwa “Merajoet Senja” juga menjadi bagian dari ikhtiar penggalangan dana untuk membantu para pegiat seni dan budaya yang mengalami ketidakberuntungan. 


Mereka merupakan bagian dari ekosistem kebudayaan yang selama ini telah ikut mewarnai kehidupan masyarakat melalui karya seni.

Bagi Yudi, seni memiliki posisi penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Kemerdekaan, dalam konteks kebudayaan, terlebih dahulu hadir dalam imajinasi sebelum menjadi kenyataan.


Seni mengolah rasa, menghidupkan cipta dan menggerakkan karsa. Dari sanalah harapan tumbuh dan masyarakat diajak membayangkan kehidupan yang lebih merdeka, adil dan bermartabat.


Peringatan kemerdekaan Indonesia pun dinilai tidak lengkap jika hanya dimaknai melalui kegiatan seremonial. Seni merupakan salah satu bagian dari sejarah perjuangan bangsa.


Sejumlah tokoh pergerakan nasional tercatat memiliki kedekatan dengan dunia kesenian. Soekarno menulis dan mementaskan drama ketika berada di Ende. Mohammad Hatta menulis puisi. Sutan Sjahrir terlibat dalam kelompok tonil dan memainkan biola. Mohammad Natsir juga memiliki perhatian terhadap kesenian.


Jejak tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui politik dan pergerakan, tetapi juga melalui kebudayaan. Seni menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, membangun kesadaran dan menumbuhkan semangat kebangsaan.


“Karena itu, ‘Merajoet Senja’ bagi saya bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah perjalanan kembali ke mata air—ke dunia yang pernah membentuk diri—sekaligus kesempatan menjaga mata air itu tetap mengalir,” kata Yudi Latif.


Ungkapan tersebut sekaligus menjadi pesan penting dari pementasan “Merajoet Senja”. Seni tidak boleh kehilangan akar. Ia harus tetap menjadi bagian dari perjalanan manusia dalam menemukan makna, menjaga ingatan dan menumbuhkan harapan.


Di tengah kehidupan bangsa yang terus berubah, momentum 81 tahun kemerdekaan menjadi kesempatan untuk kembali bertanya sejauh mana nilai-nilai kemerdekaan masih dihayati. Bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas untuk membangun kehidupan yang lebih manusiawi dan berkeadaban.


“Merajoet Senja” karena itu layak dipandang lebih dari sekadar pertunjukan panggung. Ia menjadi ajakan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan bangsa, sekaligus merawat semangat agar tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


Sebab, kemerdekaan bukanlah garis akhir. Kemerdekaan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keberanian, kreativitas, kebudayaan dan harapan yang terus menyala.


Dari panggung seni, “Merajoet Senja” mencoba menghidupkan kembali kesadaran tersebut: bahwa semangat perjuangan boleh menghadapi senja, tetapi tidak boleh padam.( Jefry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar