MANUSIA YANG BAIK TIDAK AKAN PERNAH DENGAN KEPURA-PURAAN. Oleh: Ustadz Bukhari, M.A.Kepala Sekolah SMPN 3 X Koto DiatasKetua AGPAII Kabupaten Solok/ Senin, 10/8/2026

MANUSIA YANG BAIK TIDAK AKAN PERNAH DENGAN KEPURA-PURAAN. Oleh: Ustadz Bukhari, M.A.Kepala Sekolah SMPN 3 X Koto DiatasKetua AGPAII Kabupaten Solok/ Senin, 10/8/2026

Redaksi

Solok SumbarMaju. Com - Dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan berbagai macam manusia. Ada yang terlihat baik di hadapan banyak orang, tetapi berbeda ketika tidak ada yang melihat. Ada pula yang tidak banyak berbicara tentang kebaikan, namun diam-diam selalu berusaha berbuat baik, menjaga perasaan orang lain, dan tidak suka mencari-cari kesalahan sesamanya.

Sesungguhnya, kebaikan yang sejati tidak membutuhkan kepura-puraan.


Dan jangan pula dalam kehidupan di ibaratkan seperti drama Korea yang selalu membuat kehidupan penuh dengan sensasi tanpa serasa merasa tidak berdosa menampilkan berbagai kemewahan di kehidupan penuh hayalan, islam tidak perlu menampilkan kehidupan penuh hayalan, serta bermuka manis tapi hati tidak bisa di jaga. 


Orang yang benar-benar baik tidak sibuk membangun citra dirinya di hadapan manusia. Ia lebih takut kehilangan keikhlasan di hadapan Allah daripada kehilangan pujian dari manusia.


Allah SWT berfirman:

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama...”

(QS. Al-Bayyinah: 5)


Ayat ini mengajarkan bahwa keikhlasan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. 


Kebaikan bukan dilakukan demi pujian, penghargaan, atau pengakuan manusia, tetapi karena mengharap ridha Allah SWT.


KEBAIKAN TIDAK PERLU DIPAMERKAN


Manusia yang baik akan tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang memuji. Ia membantu bukan karena ingin disebut dermawan. Ia menolong bukan agar namanya dikenal. Ia menjaga silaturahmi bukan karena ingin mendapatkan sesuatu.


Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya...”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini mengingatkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya dilihat dari apa yang tampak, tetapi juga dari niat yang ada di dalam hati.


Kita mungkin mampu menyembunyikan sesuatu dari manusia, tetapi tidak ada satu pun yang tersembunyi dari Allah.


Allah SWT berfirman:


“Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang tersembunyi dalam dada.”

(QS. Ghafir: 19)


Karena itu, jangan terlalu sibuk mencari pengakuan manusia. Cukuplah Allah yang mengetahui niat dan perjuangan kita.


JANGAN MENJELEKKAN ORANG LAIN UNTUK TERLIHAT LEBIH BAIK


Salah satu hal yang sangat disayangkan dalam kehidupan adalah ketika seseorang berusaha terlihat baik dengan cara menjelekkan orang lain.


Ia membicarakan kekurangan orang lain, mencari-cari kesalahan, membuka aib, bahkan terkadang membangun cerita agar dirinya terlihat lebih benar dan lebih baik.


Padahal Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat jelas:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.”

(QS. Al-Hujurat: 11)


Allah SWT juga

 berfirman:

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”

(QS. Al-Hujurat: 12)


Apa yang terlihat oleh mata manusia belum tentu menggambarkan kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Bisa jadi orang yang kita rendahkan justru lebih mulia di sisi Allah.


MENJAGA LISAN ADALAH TANDA KEBAIKAN


Orang yang baik bukan berarti tidak pernah melihat kesalahan orang lain. Tetapi ia tahu bagaimana menyikapinya.


Rasulullah SAW bersabda:

“Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.”

(HR. Muslim)


Itulah ghibah. Karena itu, jangan menjadikan kelemahan dan kesalahan orang lain sebagai bahan untuk meninggikan diri sendiri.


Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Maka sebelum berbicara tentang orang lain, tanyakan kepada diri sendiri:


Apakah perkataan ini benar?

Apakah perkataan ini perlu?

Apakah perkataan ini bermanfaat?

Dan apakah Allah ridha jika aku mengatakannya?

Jika jawabannya tidak, maka diam sering kali menjadi pilihan terbaik.


JANGAN MENJADIKAN KEBURUKAN ORANG LAIN SEBAGAI TANGGA


Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua memiliki kekurangan, kesalahan dan dosa.


Karena itu, jangan membangun kebaikan diri dengan cara menjatuhkan orang lain.

Jangan merasa tinggi karena berhasil membuat orang lain terlihat rendah.


Allah SWT berfirman:

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)


Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh seberapa banyak ia dipuji manusia, bukan pula dari seberapa banyak orang lain yang berhasil ia jatuhkan.


Kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.


KEBAIKAN SEJATI LAHIR DARI HATI YANG BERSIH


Manusia yang baik tidak harus mengatakan kepada semua orang bahwa dirinya baik.

Kebaikan akan terlihat dari sikapnya.

Ia tetap rendah hati ketika dipuji.

Ia tetap sabar ketika disakiti.


Ia tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong.


Ia tetap menolong meskipun tidak mendapatkan balasan.

Ia mampu memaafkan meskipun pernah disakiti.


Dan yang paling penting, ia tidak menjadikan keburukan orang lain sebagai alasan untuk berbuat buruk.


Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)


Maka jangan terlalu sibuk memperindah penampilan di hadapan manusia sementara hati penuh dengan iri, dengki, kebencian dan kesombongan.


Perbaikilah hati, karena Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalamnya.


TIDAK PERLU BERPURA-PURA MENJADI BAIK


Pada akhirnya, manusia mungkin lupa dengan kebaikan yang pernah kita lakukan. Bahkan mungkin ada orang yang tidak menghargai ketulusan kita.


Tidak mengapa.

Kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia. 


Tetaplah berbuat baik meskipun tidak dipuji. Tetaplah jujur meskipun kejujuran tidak selalu menguntungkan. Tetaplah rendah hati meskipun memiliki banyak kelebihan.


Jangan membalas kepura-puraan dengan kepura-puraan. Jangan membalas keburukan dengan keburukan.

Daripada sibuk menilai dan menjelekkan orang lain, lebih baik kita sibuk memperbaiki diri sendiri.

Kurangi berbicara tentang keburukan orang lain.


Perbanyak introspeksi diri.

Jaga hati.

Jaga lisan.

Perbanyak amal.

Dan ikhlaskan segala sesuatu karena Allah.


Sebab manusia yang benar-benar baik tidak akan pernah penuh dengan kepura-puraan.


Ia tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk terlihat tinggi.


Ia tidak perlu menjelekkan orang lain untuk terlihat baik.

Ia tidak perlu mencari pujian manusia untuk merasa berharga.


Ia cukup menjadi dirinya sendiri, berbuat baik dengan tulus, menjaga lisannya, membersihkan hatinya, dan menyerahkan penilaian akhir hanya kepada Allah SWT.


Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana manusia melihat kita, tetapi bagaimana Allah menilai hati dan amal kita.( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar