SOLOK, SUMBARMAJU.COM — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Di tengah kemajuan tersebut, guru dituntut mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tetap menempatkan pendidikan karakter dan keteladanan sebagai bagian utama dari proses pembelajaran.
Pesan ini menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kegiatan NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) Digital bertema “Cerdas Mengajar di Era Digital” yang berlangsung di Premier Hotel Solok, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Hj. Dr. Lisda Hendrajoni, SE., MM.Tr., anggota DPR RI Komisi V, H. Dr. Dedi Wandra, MA., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok, serta Dr. Nofriyon, M.Pd., yang menarik perhatian karena merupakan mantan siswa MTsN 1 Solok.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok, H. Dr. Dedi Wandra, MA., memberikan apresiasi terhadap forum yang mengangkat isu penting bagi masa depan pendidikan Islam tersebut. Pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi dinilai relevan dengan kebutuhan pendidik dalam menghadapi perubahan pola belajar dan perkembangan generasi muda.
Dalam era digital, kehadiran AI membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar, mencari referensi, menyusun materi, dan menciptakan metode pembelajaran yang lebih menarik. Namun, pemanfaatannya harus tetap berada dalam kendali guru serta disesuaikan dengan tujuan pendidikan.
AI adalah alat bantu, bukan tujuan pembelajaran. Prinsip ini menegaskan bahwa teknologi seharusnya memperkuat peran guru, bukan membuat proses pendidikan semata-mata bergantung pada perangkat digital. Guru tetap memegang tanggung jawab untuk memastikan materi yang disampaikan benar, relevan, dan mendidik.
Tantangan berikutnya adalah kesiapan tenaga pendidik dalam meningkatkan kemampuan digital.
Perubahan berlangsung begitu cepat sehingga guru perlu terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi. Kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan bagian penting dari kompetensi pendidik masa kini.
Meski demikian, kecakapan digital saja tidak cukup. Guru memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan pelajaran. Mereka turut membentuk kepribadian, menanamkan nilai moral, membangun kedisiplinan, serta memberikan contoh nyata melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan Islam, keteladanan tersebut menjadi semakin penting. Penguasaan ilmu dan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, sehingga peserta didik tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Guru juga dituntut memahami bahwa setiap peserta didik mempunyai keunikan masing-masing.
Perbedaan kemampuan, minat, latar belakang, dan cara memahami pelajaran membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama. Dengan mengenali karakter siswa, guru dapat membangun suasana belajar yang lebih efektif, inklusif, dan bermakna.
Kegiatan NGOPI Digital di Solok menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan guru dalam menggunakannya secara tepat. Kolaborasi antara inovasi digital, kualitas pengajaran, dan keteladanan diharapkan mampu memperkuat mutu pendidikan Islam.
Pada akhirnya, guru yang ideal di era digital adalah mereka yang tidak berhenti belajar, mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana, memahami kebutuhan peserta didik, dan tetap menjadi panutan. Sebab, teknologi dapat membantu menyampaikan pengetahuan, tetapi karakter dan keteladanan guru tetap menjadi unsur penting dalam membentuk generasi yang cerdas, berintegritas, dan berakhlak mulia.( Yef)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar