KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR, SUMBARMAJU.COM – Komitmen melestarikan adat istiadat dan kesenian Minangkabau terus diperkuat warga Minang di perantauan, khususnya di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu upaya nyata dilakukan melalui Sanggar Seni PUTI NILAM SARI yang konsisten memperkenalkan seni dan budaya Ranah Minang sekaligus mewariskannya kepada generasi muda.
Semangat tersebut terlihat saat sanggar ini tampil menyambut Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, beserta rombongan dalam rangka PORSENAS II Tahun 2026 di Kupang, Jumat (16/10/2026).
Sanggar Seni PUTI NILAM SARI berdiri sejak 2010 dengan pembina Dra. Betrina Fatmi. Adapun ketua sanggar pertama adalah Drh. Annisa Wandha Sari.
Sejak awal berdiri, sanggar ini menjadi wadah bagi warga Minang untuk belajar, mengembangkan, dan menampilkan kesenian tradisional Minangkabau di tanah rantau.
Penampilan Sanggar Seni PUTI NILAM SARI dalam menyambut kedatangan Gubernur Sumatera Barat menjadi bentuk penghormatan sekaligus bukti bahwa seni dan budaya Minangkabau tetap hidup dan berkembang meskipun jauh dari daerah asalnya.
Tidak hanya tampil dalam acara tersebut, sanggar ini juga kerap mengisi berbagai kegiatan, mulai dari parade daerah, acara seremonial, hingga perhelatan yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) dan organisasi masyarakat Minang lainnya di NTT.
Sejumlah organisasi yang menjadi ruang bagi sanggar untuk berpartisipasi antara lain Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP), Ikatan Warga Saniang Baka (IWS), Gebu Minang, serta berbagai organisasi masyarakat Minangkabau berdasarkan daerah asal yang tersebar di Kota Kupang dan wilayah NTT.
Pembina Sanggar Seni PUTI NILAM SARI, Dra. Betrina Fatmi, yang juga menjabat sebagai Ketua Bundo Kanduang Kupang, menegaskan bahwa keberadaan sanggar bukan sekadar tempat berlatih dan menampilkan tarian tradisional, tetapi juga menjadi sarana menjaga identitas budaya Minangkabau di perantauan.
Melalui kegiatan sanggar, generasi muda diharapkan semakin mengenal seni, adat, dan tradisi leluhur. Anak-anak dan generasi penerus tidak hanya mengenal Minangkabau melalui cerita orang tua, tetapi juga dapat menyaksikan, mempelajari, dan mempraktikkan langsung kesenian serta nilai-nilai budaya yang diwariskan.
Peran Bundo Kanduang juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.
Dengan dukungan penasihat Bundo Kanduang, Hj. Rosminar Ma’ruf, kegiatan budaya diharapkan mampu mempererat hubungan kekeluargaan warga Minang sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap adat dan tradisi di kalangan generasi muda.
Ketua DPW IKM NTT, DR. Asrial Chatib, turut menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan seni budaya Minangkabau di perantauan. Seni tradisional bukan hanya hiburan, melainkan juga mengandung filosofi, pesan moral, nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang patut dipahami serta diwariskan.
Menurutnya, setiap gerakan dalam tarian tradisional Minangkabau memiliki makna tersendiri. Karena itu, seni budaya perlu terus dipelajari, dilestarikan, dan dikembangkan agar tetap relevan bagi generasi sekarang tanpa kehilangan jati diri serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, Ketua Gebu Minang NTT, Yoserizal, menegaskan bahwa pelestarian budaya, adat istiadat, dan kesenian Minangkabau merupakan tanggung jawab bersama warga Minang di perantauan. Meskipun berada jauh dari Ranah Minang, identitas dan warisan budaya leluhur harus tetap dijaga agar tidak hilang ditelan masa.
“Sebagai warga Minang di perantauan, pelestarian budaya, adat, serta kesenian perlu terus kita jaga dan lestarikan. Apalagi kita berada jauh dari Ranah Minang, sehingga diperlukan kepedulian bersama untuk mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap mengenal, mencintai, dan bangga terhadap jati diri Minangkabau,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua DPD PKDP Kota Kupang, Azwar Caniago, menyebut pelestarian adat dan kesenian Minangkabau sebagai tanggung jawab bersama warga perantauan.
Melalui sanggar seni dan organisasi paguyuban, budaya Minangkabau harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman dan tetap menjadi kebanggaan masyarakat Minang di mana pun berada.
Dukungan juga disampaikan salah seorang anggota IWS Kota Kupang, Yosfiadi Lenggang Sutan. Ia menyatakan bahwa Sanggar Seni PUTI NILAM SARI memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus menghadirkan suasana Ranah Minang di tanah rantau.
Menurut Yosfiadi Lenggang Sutan, penampilan seni tradisional Minangkabau bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi pengobat rindu terhadap kampung halaman yang selalu melekat di hati para perantau. Ia berharap sanggar tersebut terus berkembang dan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, serta menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tanah rantau.
Keberadaan Sanggar Seni PUTI NILAM SARI, Bundo Kanduang, IKM, Gebu Minang, PKDP, IWS, dan organisasi masyarakat Minangkabau lainnya di NTT menunjukkan bahwa semangat menjaga warisan leluhur tetap tumbuh di tanah rantau.
Sinergi berbagai pihak diharapkan terus memperkuat kegiatan seni dan budaya sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat aktif.
Dengan semangat kebersamaan, warga Minang di Kupang diharapkan terus menjaga adat, melestarikan kesenian, dan mewariskan nilai-nilai luhur Minangkabau kepada generasi penerus.
Dengan demikian, meskipun jauh dari kampung halaman, identitas budaya Minangkabau tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan lintas generasi.( Yef)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar