Taragak Basuo Mantan Agam Rajut Silaturahmi Penuh Kehangatan Paarek Raso Badunsanak

Taragak Basuo Mantan Agam Rajut Silaturahmi Penuh Kehangatan Paarek Raso Badunsanak

Redaksi

BUKITTINGGI, sumbarmaju.com -  Waktu boleh berlalu, jarak boleh memisahkan, dan perjalanan pengabdian boleh membawa setiap orang ke tempat yang berbeda. Namun, ikatan persaudaraan yang tumbuh dari kebersamaan dan pengabdian di Kabupaten Agam tetap menjadi kenangan berharga yang tak lekang oleh waktu.

Semangat itulah yang mewarnai pertemuan silaturahmi Taragak Basuo Mantan Agam yang digelar Minggu, 18 Oktober 2026, di Istana Bung Hatta, Bukittinggi. Mengusung motto “Bapisah Karano Jarak, Basuo Karano Taragak, Paarek Raso Badunsanak”,

Pertemuan tersebut menjadi momentum istimewa untuk kembali merajut persaudaraan, mengenang perjalanan pengabdian, serta mempererat hubungan kekeluargaan di antara para anggota mantan Agam dimana saja berada.

Suasana penuh keakraban mewarnai pertemuan yang mempertemukan para mantan aparatur sipil negara (ASN), pensiunan, serta mereka yang pernah meniti karier dan menjalankan tugas di Kabupaten Agam maupun di luar daerah tersebut berasal dari Kab Agam

Bukan sekadar pertemuan biasa, kegiatan ini menjadi ruang untuk melepas rindu, bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan memperbarui ikatan persaudaraan yang telah terjalin sejak bertahun-tahun silam.

Di tengah perjalanan usia yang terus bertambah, kesempatan berkumpul seperti ini menjadi semakin bermakna.Sebab, kebahagiaan tidak selalu hadir melalui acara besar atau kemewahan, tetapi juga melalui kesempatan duduk bersama sahabat lama, mendengar kabar satu sama lain, dan tertawa mengenang kisah-kisah masa lalu.

Pertemuan Taragak Basuo Mantan Agam ini diinisiasi oleh mantan Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar juga dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Dr. Endrizal,SE,M.Si mewakili Gubernur Sumbar serta Staf Ahli Pemkab Agam Bidang Kemasyarakatan Sumberdaya manusia, Taslim, S.Pd., M.Pd.


Sesepuh mantan Agam Aristo Munandar Dt. Bagindo Kayo, menilai kegiatan silaturrahmi ini sebagai energi positif, terutama bagi para anggota yang telah melewati perjalanan panjang dalam pengabdian dan kini memasuki fase kehidupan yang lebih matang.


“Ini merupakan energi positif. Acara ini diadakan ketika usia kita sudah laruik sanjo,” ujar Aristo Munandar, juga sebagai pelindung dan penasehat PWRI Agam


Ungkapan laruik sanjo dalam filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau menggambarkan fase usia senja, ketika seseorang telah melewati berbagai pengalaman, tantangan, dan dinamika kehidupan.


Namun, bertambahnya usia bukan berarti semangat untuk bersilaturahmi harus ikut memudar. Sebaliknya, masa tersebut justru menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada sesama, memperbanyak rasa syukur, dan menikmati kebersamaan bersama orang-orang yang memiliki kenangan serta perjalanan hidup yang serupa.


Menurut Aristo Munandar pertemuan seperti ini patut dipelihara dan terus dilaksanakan. Selain memberikan kebahagiaan, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa persahabatan dan persaudaraan tidak seharusnya terputus hanya karena seseorang telah pensiun atau tidak lagi berada dalam lingkungan pekerjaan yang sama.


Bagi para anggota, masa pengabdian boleh saja berakhir secara administratif, tetapi hubungan kemanusiaan dan kekeluargaan harus tetap hidup.


Lebih jauh, Aristo Munandar menekankan bahwa salah satu hal terpenting dalam pertemuan tersebut adalah kesempatan untuk saling memaafkan atas segala kekhilafan selama menjalani tugas dan pengabdian.


Dalam perjalanan karier, setiap orang tentu pernah menghadapi perbedaan pendapat, mengambil keputusan, atau berada dalam situasi yang tidak selalu mudah.


Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, kebijakan yang harus dijalankan, serta berbagai dinamika pekerjaan yang terkadang meninggalkan kesan tersendiri.


Karena itu, pertemuan Taragak Basuo menjadi kesempatan untuk melapangkan hati, menghapus kesalahpahaman, dan kembali memandang satu sama lain sebagai saudara.


Termasuk selama dirinya menjalankan amanah sebagai Bupati Agam, Aristo berharap tidak ada pengalaman masa lalu yang menjadi penghalang untuk terus menjaga hubungan baik. Semangat saling memaafkan tersebut menjadi pesan penting bahwa kebesaran hati jauh lebih berharga dari pada mempertahankan perbedaan. Pengalaman masa lalu hendaknya menjadi pelajaran, sedangkan hubungan persaudaraan harus terus dijaga untuk masa depan.


Pertemuan ini sekaligus mengajarkan bahwa semakin panjang perjalanan hidup seseorang, semakin besar pula arti ketulusan, kerendahan hati, dan kemampuan menghargai orang lain.


Turut hadir memberikan sambutan Bupati Agam diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Sumber Daya Manusia Taslim S.Pd.M.Pd, Selanjutnya gubernur Sumbar diwakili kepala Dinas Koperindag dan UMKM, Dr. Endrizal, SE. M.Si, sekaligus membuka pertemuan taragak basuo mantan Agam.


Pada kesempatan itu juga hadir mantan Bupati Agam Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah, mantan wakil bupati Agam diantaranya H. Syafruddin Arifin Dt. Bandaro Nan Kuniang, Ardinal Hasan, Dt. Sati.


Sebelum pertemuan taragak basuo dimulai adanya laporan panitia pelaksanan sekaligus menyampaikan Sejarah kronologis silaturrahmi mantan Agam disampaikan Ir. Eldi Efra, MT selaku ketua pelaksana. (Yun.S)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar