Palembayan. SumbarMaju. Com— Galodo yang menerjang Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan jejak trauma mendalam bagi warga. Arus air bercampur lumpur, batu, dan kayu menghantam pemukiman tanpa ampun.
Di tengah peristiwa tersebut, muncul sebuah kesaksian hidup yang menggugah nurani dan menggambarkan betapa tipisnya batas antara hidup dan maut.
Kesaksian itu datang dari Ibu Rahma, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di SDN 02 Salareh Aia Palembayan. Ia menjadi salah satu warga yang berada tepat di lintasan galodo saat bencana terjadi. Dalam hujan deras dan arus yang tak terkendali, tubuhnya terseret air deras hingga berpindah dari satu pusaran ke pusaran lain.
Sedikitnya tiga kali Ibu Rahma dihantam dan dibawa arus. Hampir dua jam lamanya ia terombang-ambing di tengah keganasan galodo. Dalam kondisi tersebut, tenaga kian melemah dan harapan hidup terasa menipis. Di saat itulah, Ibu Rahma memilih berserah sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Dengan kesadaran yang tersisa, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam hatinya terbersit satu doa, jika umur memang harus berakhir, ia berharap pergi dalam keadaan menyebut nama Allah SWT.
Tak lama setelah itu, Ibu Rahma kehilangan kesadaran, hanyut bersama derasnya arus galodo.
Ia tersadar kembali dalam kondisi tubuh terjepit di antara tumpukan kayu di pinggir sungai. Dalam keadaan lemah dan basah kuyup, sayup-sayup terdengar suara azan Magrib. Suara itu menjadi penanda bahwa ia masih diberi kesempatan hidup. Dengan sisa tenaga, Ibu Rahma berusaha melepaskan diri dari jepitan kayu dan merangkak perlahan menuju tempat yang lebih aman.
Saat merangkak, Ibu Rahma mengisahkan melihat hamparan padi yang menghijau dengan aliran air yang tampak sangat jernih. Ia mengambil air tersebut dengan kedua tangannya untuk diminum, seolah menjadi penguat langkahnya untuk terus bertahan. Tidak lama kemudian, ia bertemu dengan seorang warga yang melintas dan segera memberikan pertolongan, membawanya ke lokasi yang lebih aman.
Namun keselamatan yang ia peroleh harus dibayar dengan duka yang amat mendalam. Dalam musibah galodo tersebut, Ibu Rahma kehilangan satu orang anak tercinta, ibunda kandung, serta dua orang adik. Kepergian orang-orang terkasih itu menjadi luka batin yang jauh lebih berat daripada penderitaan fisik yang ia alami.
Di tengah suasana duka pascagalodo, Fifi Risanti, M.Pd.I., Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) AGPAII Sumbar, hadir memberikan dukungan dan bantuan kepada Ibu Rahma. Kehadiran tersebut bukan hanya membawa bantuan materi, tetapi juga penguatan spiritual bagi korban bencana, Kamis (1/1/2026).
Menurut Fifi Risanti, cobaan yang dialami Ibu Rahma merupakan ujian iman yang sangat berat, sekaligus pengingat nyata tentang kuasa Allah SWT yang melampaui logika manusia.
“Ketika Allah berkehendak menyelamatkan seseorang, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalanginya. Dan ketika Allah memanggil hamba-Nya, itu pun merupakan bagian dari ketetapan dan kasih sayang-Nya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa musibah tidak seharusnya menjauhkan manusia dari iman, tetapi justru menjadi jalan untuk memperkuat kesabaran dan keteguhan hati.
“Kesedihan ini sangat manusiawi. Namun semoga Allah menggantinya dengan pahala yang tak terhingga dan menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan,” tambahnya.
Galodo telah merenggut harta, keluarga, dan meninggalkan luka mendalam.
Namun dari peristiwa itu pula tersimpan pelajaran besar tentang makna iman, kesabaran, dan tawakal. Keselamatan Ibu Rahma di tengah kehilangan orang-orang tercinta menjadi pengingat bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam genggaman Allah SWT.
Kini, Ibu Rahma perlahan menjalani masa pemulihan, baik secara fisik maupun batin.
Doa dan dukungan terus mengalir dari berbagai pihak. Semoga kisah ini menjadi penguat bagi para korban lainnya, serta menjadi cermin bagi kita semua tentang keteguhan iman dalam menghadapi ujian kehidupan.( Yef)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar