KPGH dan Suri Gelar Pameran Manuskrip Syair Islam Minangkabau di Kutub Chanah HAKA.

KPGH dan Suri Gelar Pameran Manuskrip Syair Islam Minangkabau di Kutub Chanah HAKA.

Redaksi



Sumbarmaju.com_Sungai Batang,  Surau Intellectual for Conservation (SURI) berkolaborasi dengan Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) menggelar Pameran, Seminar, dan Pertunjukan Syair bertajuk “Manuskrip Syair Islam Minangkabau” di Khutub Khannah Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, mulai 5 hingga 15 Juni 2026, ini menampilkan berbagai koleksi manuskrip kuno karya ulama dan syekh Minangkabau yang ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu. Manuskrip-manuskrip tersebut memuat beragam syair keislaman yang menjadi bagian penting dari khazanah intelektual dan budaya Islam di Ranah Minang.

Pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Bupati Agam diwakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Andri, unsur Forkopimca Tanjung Raya, akademisi dari Universitas Andalas dan UIN Imam Bonjol Padang, perwakilan KPGH, Wali Nagari Sungai Batang, serta berbagai undangan lainnya.

Ketua Panitia, Nofri Duino Zora, mengatakan kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai syair Islam Minangkabau yang selama ini tersimpan dalam manuskrip-manuskrip lama.


“Melalui pameran ini kami ingin mengangkat kembali tradisi syair Islam Minangkabau agar hidup dan dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, pameran ini juga menjadi ruang pertemuan masyarakat, akademisi, mahasiswa, komunitas, hingga kelompok difabel,” ujarnya.


Ia menyampaikan apresiasi kepada keluarga Buya Hamka yang telah memberikan izin sehingga kegiatan dapat dilaksanakan di Khutub Khannah HAKA.


Selain itu, melalui pameran ini diharapkan khazanah syair Islam Minangkabau semakin dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus menjadi langkah nyata dalam menjaga warisan intelektual dan budaya Islam yang tumbuh dan berkembang di Ranah Minang


Pameran ini menghadirkan berbagai manuskrip dan salinan tulisan tangan karya ulama Minangkabau yang memuat ajaran tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, kisah para nabi, pujian kepada Rasulullah SAW, nasihat kehidupan, hingga polemik keagamaan yang pernah mewarnai sejarah Islam di Minangkabau.


Dijelaskan, Khutub Khannah Haji Abdul Karim Amrullah atau Inyiak Rasul dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki keterkaitan erat dengan tradisi keilmuan dan manuskrip Islam Minangkabau. Tempat ini merupakan pusat peninggalan intelektual ulama pembaharu Minangkabau yang menjadikan tulisan sebagai sarana penyebaran ilmu, kritik, dan pencerahan umat.


“Di ruang ini manuskrip tidak hadir sebagai benda bisu, tetapi sebagai suara zaman; suara surau, suara ulama, suara perdebatan, dan suara iman yang masih bergema hingga hari ini,” ungkapnya.


Kurator Manuskrip Syair Minangkabau, Dr. Pramono, menjelaskan bahwa pameran ini berangkat dari keyakinan bahwa manuskrip tidak cukup hanya disimpan, tetapi juga harus dibaca, dipelajari, dan diperkenalkan kepada masyarakat.


“Melalui lembar-lembar tua ini, kita diajak kembali membaca bahwa dalam tradisi Minangkabau, syair adalah ingatan yang bernada, syiar adalah ilmu yang hidup, dan moderasi beragama merupakan kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.


Sementara itu, Wali Nagari Sungai Batang, Ahsin, menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya pameran tersebut di daerah yang juga dikenal sebagai kampung halaman Buya Hamka.


“Atas nama Pemerintah Nagari Sungai Batang, kami merasa bangga dengan penyelenggaraan pameran manuskrip syair Islam Minangkabau ini. Sungai Batang tidak hanya memiliki Museum Buya Hamka, tetapi juga Khutub Khannah yang harus dibangkitkan kembali eksistensinya,” ujarnya.


Ia berharap Khutub Khannah dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata edukasi dan budaya yang memperkenalkan warisan manuskrip Islam Minangkabau kepada masyarakat luas.


Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam,  Andri, memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini juga sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Agan.


“Kami melihat kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, akademisi, mahasiswa, perantau, komunitas, hingga masyarakat umum. Ini sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Agam dalam melestarikan warisan budaya dan intelektual Minangkabau,” katanya.


Menurut Andri, pelestarian manuskrip syair Islam Minangkabau menjadi tantangan tersendiri karena semakin berkurangnya kemampuan masyarakat membaca aksara Arab- Melayu.


“Dokumen-dokumen berharga ini harus kita wariskan kepada generasi mendatang. Karena itu, upaya pelestarian, penelitian, dan pengenalan kembali manuskrip kepada masyarakat menjadi sangat penting,” jelasnya.( Syafrianto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar