Saniang Baka.SumbarMaju.com — Menjelang pelaksanaan Pemilihan Pergantian Antar Waktu (PAW) Wali Nagari yang dijadwalkan berlangsung Sabtu, 27 Juni 2026, masyarakat kini dihadapkan pada momentum penting menentukan arah masa depan nagari. Pemilihan kali ini tidak bisa dipandang sebagai agenda seremonial biasa, melainkan keputusan strategis yang akan menentukan bagaimana nagari bergerak dalam beberapa tahun ke depan.
Para pemilih yang berasal dari unsur perwakilan setiap jorong memegang tanggung jawab besar.
Pilihan yang diambil bukan sekadar memilih siapa yang dikenal dekat, siapa yang sering hadir di tengah masyarakat, atau siapa yang memiliki basis dukungan paling ramai.
Lebih dari itu, yang dipertaruhkan adalah masa depan pembangunan nagari yang saat ini sedang menghadapi tantangan serius.
Realitas yang tidak bisa dibantah, kondisi Nagari Saniang Baka saat ini membutuhkan perhatian besar, terutama dalam aspek pembangunan infrastruktur yang terdampak pasca berbagai persoalan bencana alam beberapa waktu terakhir.
Jalan, fasilitas umum, sarana pendukung ekonomi masyarakat, semuanya membutuhkan sentuhan pembangunan yang tidak sedikit dari sisi anggaran.
Di sinilah masyarakat harus jujur melihat kenyataan. Nagari tidak mungkin hanya bergantung pada dana rutin pemerintahan yang jumlahnya terbatas. Tidak realistis berharap pembangunan besar bisa selesai hanya dengan mengandalkan swadaya masyarakat ataupun bantuan sukarela dari perantau yang sifatnya tidak tetap dan situasional.
Karena itu, calon Wali Nagari yang akan dipilih seharusnya memiliki kemampuan membangun akses komunikasi ke berbagai tingkatan pemerintahan.
Hubungan dengan Pemerintah Kabupaten Kabupaten Solok, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, bahkan pemerintah pusat menjadi modal penting untuk memperjuangkan masuknya program pembangunan ke nagari.
Persoalannya, sering kali dalam proses pemilihan di tingkat lokal, pertimbangan rasional justru kalah oleh faktor emosional. Kedekatan keluarga, hubungan kelompok, pergaulan sehari-hari, hingga kepentingan sempit tertentu kadang lebih dominan dibanding melihat kapasitas dan kemampuan nyata calon dalam memimpin pemerintahan.
Jika pola seperti ini terus dipertahankan, maka jangan heran bila nagari berjalan lambat. Kepemimpinan tanpa kapasitas hanya akan menghasilkan rutinitas administrasi, bukan percepatan pembangunan.
Jabatan Wali Nagari bukan posisi simbolik, tetapi posisi kerja yang menuntut kemampuan berpikir strategis dan keberanian mengambil keputusan.
Tantangan lain yang harus dipahami adalah semakin ketatnya persaingan mendapatkan program pembangunan dari luar daerah. Seorang pemimpin hari ini dituntut mampu melakukan komunikasi aktif, membangun jaringan luas, melakukan lobi kebijakan, dan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak demi kepentingan masyarakat.
Tidak cukup hanya dikenal baik secara pribadi. Tidak cukup hanya populer di lingkungan sekitar. Era sekarang membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara di banyak forum, mampu meyakinkan pihak luar, serta mampu membaca peluang investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Nagari Saniang Baka.
Hal mendasar lain adalah kemampuan menyelesaikan masalah.
Banyak orang terlihat siap memimpin, tetapi ketika berhadapan dengan konflik sosial, persoalan pemerintahan, atau perbedaan kepentingan di masyarakat, justru tidak memiliki kecakapan manajerial yang memadai. Akibatnya, masalah lama tidak selesai, sementara masalah baru terus bermunculan.
Pilwana PAW kali ini seharusnya menjadi momentum perubahan cara berpikir para pemilih.
Sudah waktunya meninggalkan pola memilih berdasarkan popularitas semu dan kedekatan emosional.
Yang dibutuhkan masyarakat hari ini adalah pemimpin yang bekerja dengan gagasan, jaringan, pengalaman, serta kemampuan menghadirkan solusi nyata.
Pada akhirnya, masa depan Saniang Baka berada di tangan para pemilih yang akan menentukan keputusan pada 27 Juni mendatang.
Sejarah akan mencatat apakah pilihan itu lahir dari pertimbangan objektif demi kemajuan nagari, atau justru kembali terjebak pada pola lama yang hanya melahirkan stagnasi pembangunan.
Nagari hari ini tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar dikenal banyak orang, tetapi pemimpin yang benar-benar mampu membawa perubahan.( Yef )


Tidak ada komentar:
Posting Komentar