SMKN 3 Payakumbuh Gandeng Kominfo dan DP3AP2KB, Perangi Cyberbullying di Kalangan Pelajar

SMKN 3 Payakumbuh Gandeng Kominfo dan DP3AP2KB, Perangi Cyberbullying di Kalangan Pelajar

Redaksi

Payakumbuh – SMK Negeri 3 Payakumbuh berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) dalam upaya memerangi perundungan siber (cyberbullying) di kalangan pelajar.



Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi bertema “Stop Bullying dan Etika Bermedia Sosial, Kita Wujudkan Sekolah Ramah Anak” yang digelar di aula sekolah setempat.


Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat perlindungan anak di era digital, sekaligus membekali siswa dengan pemahaman tentang etika bermedia sosial dan pentingnya menjaga keamanan data pribadi.

Kepala SMK Negeri 3 Payakumbuh, Dra. Wismarni, MM, mengatakan kegiatan ini sangat penting dalam membentuk karakter dan kesadaran digital pelajar.


“Di era digital saat ini, siswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki etika dalam bermedia sosial. Kami mendukung penuh kolaborasi ini sebagai upaya mencegah cyberbullying di lingkungan sekolah,” ujarnya, Rabu (17/06/2026).


Kepala DP3AP2KB Kota Payakumbuh, Desmon Korina, menyampaikan bahwa tantangan perlindungan anak saat ini tidak hanya terjadi di lingkungan fisik, tetapi juga semakin berkembang di ruang digital.


“Seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan pelajar, risiko kekerasan digital seperti cyberbullying juga ikut meningkat. Karena itu, edukasi ini penting agar siswa mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Kota Payakumbuh, Kurniawan Syah Putra, menekankan bahwa literasi digital menjadi kunci dalam menciptakan ruang digital yang aman dan sehat bagi generasi muda.


Menurutnya, kemajuan teknologi informasi memang membuka peluang besar bagi pelajar untuk belajar dan berkreasi, namun di sisi lain juga menghadirkan ancaman seperti penyebaran hoaks, penyalahgunaan data pribadi, hingga perundungan siber.


“Media sosial harus menjadi ruang untuk hal-hal positif, bukan tempat perundungan. Setiap unggahan meninggalkan jejak digital yang dapat berdampak panjang terhadap kehidupan seseorang,” tegasnya.


Ia menjelaskan bahwa cyberbullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti hinaan, ejekan terhadap fisik, penyebaran foto tanpa izin, pengucilan dalam grup percakapan, hingga penggunaan akun palsu untuk menyerang korban.


“Ini bukan sekadar candaan. Dampaknya bisa serius, mulai dari gangguan mental, menurunnya rasa percaya diri, hingga memengaruhi masa depan korban,” katanya.


Dalam kesempatan tersebut, pelajar juga diimbau untuk tidak membalas tindakan perundungan siber, melainkan menyimpan bukti, memblokir akun pelaku, serta melaporkan kejadian kepada orang tua atau pihak sekolah.


Selain itu, siswa diingatkan agar lebih bijak dalam membagikan informasi pribadi di media sosial, seperti alamat rumah, nomor telepon, maupun kata sandi.


“Jejak digital tidak mudah hilang. Apa yang diunggah hari ini bisa berdampak di masa depan, baik dalam pendidikan maupun karier,” ujarnya.


Melalui kegiatan ini, diharapkan para pelajar mampu membangun budaya digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab, sekaligus mendukung terwujudnya sekolah ramah anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi. (DN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar