Dari Danau Singkarak ke Panggung Nasional: Nagari Tikalak Raih Desa Budaya 2025

Dari Danau Singkarak ke Panggung Nasional: Nagari Tikalak Raih Desa Budaya 2025

Redaksi

Solok, SumbarMaju.com – Nagari Tikalak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, kembali mengukir prestasi. Desa yang terkenal dengan pesona Danau Singkarak ini resmi masuk daftar 10 desa terbaik di Indonesia dalam Program Fasilitasi Aktivasi Pemanfaatan Potensi Budaya Desa oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Keberhasilan itu dirayakan warga melalui Alek Nagari: Mangirai di Tapian, festival budaya yang mengangkat tema “Perempuan, Nelayan & Danau Singkarak.” Festival ini bukan sekadar perayaan, tetapi simbol semangat masyarakat Tikalak dalam menjaga dan mengekspresikan warisan budaya mereka.


Apresiasi dari Wali Nagari dan Camat

Wali Nagari Tikalak, Joni Martias, B.Sc, menyampaikan kebanggaannya. “Budaya kita bukan hanya warisan leluhur, tapi identitas yang menguatkan ekonomi dan kebersamaan masyarakat. Saya mengajak seluruh warga untuk terus menjaga dan mengembangkan budaya ini agar Nagari Tikalak dikenal hingga kancah nasional,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Camat X Koto Singkarak, Chrismon Darma, S.STP. Saat dihubungi awak media, ia menyatakan, “Prestasi Nagari Tikalak masuk dalam daftar 10 desa terbaik nasional ini patut diapresiasi. Ini bukti nyata bahwa kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat memajukan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.”


152 Desa Pemajuan Budaya, Tikalak Bersinar

Menurut Irini Dewi Wanti, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, program ini bertujuan membina dan mengembangkan potensi budaya berbasis masyarakat. Tikalak menjadi sorotan dengan kekayaan tradisi nelayannya, mulai manjariang, mamukek, marawai, hingga manangkok pensi, yang diwariskan turun-temurun.


Rozi Erdus, penggagas festival sekaligus Daya Desa terpilih, menekankan bahwa Alek Nagari Mangirai di Tapian lahir dari semangat warga sendiri. “Ini bukan sekadar festival. Ini ruang belajar, dialog, dan kebersamaan. Dari anak muda hingga perempuan, nelayan, dan pengrajin, semua berperan aktif. Budaya akan hidup jika masyarakat menjadi pelakunya, bukan sekadar penonton,” ujar Rozi.


Perempuan Tikalak, Penggerak Ekonomi Pesisir

Festival menampilkan demo masak 101 tungku kuliner khas Danau Singkarak, pertunjukan seni warga, pameran hasil pemetaan budaya, pasar UMKM, dan tradisi seperti mauntang bilih, duduak basamo, maggoro, manyiriah, serta malam bagurau anak muda.


Sorotan khusus jatuh pada Amak-Amak Toke Bilih Tikalak, kelompok perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi perikanan. Mereka tak hanya mengolah hasil tangkapan, tetapi juga memasarkan bilih ke pasar tradisional. Rozi pun menggelar workshop media berbasis warga agar ibu-ibu bisa mendokumentasikan aktivitas ekonomi dan budaya secara mandiri.


Dukungan Pemerintah dan Komunitas

Festival mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Solok dan komunitas budaya Sumatera Barat. Tikalak juga menjadi inspirasi bagi sembilan desa lain di Indonesia yang mengikuti program serupa, dari Aceh hingga Papua Barat.


Alek Nagari, Identitas Baru Tikalak

Festival perdana ini menegaskan identitas Nagari Tikalak: desa kaya pengetahuan lokal, kuat tradisi nelayan, dan perempuan berperan besar dalam pembangunan ekonomi. Alek Nagari Mangirai di Tapian diharapkan menjadi agenda rutin sekaligus model pemajuan budaya berbasis masyarakat di kawasan Danau Singkarak.( Yef )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar