Refleksi di Hari Guru Nasional: 10 Ciri Guru yang Sulit Diajak Kolaborasi di Sekolah, Oleh: Bukhari S.Ag.MA., Ketua AGPAII Kab. Solok, Kepala Sekolah SMPN 3 X Koto Di Atas, Mahasiswa S3 UMSB,Senin,24/11/2025.

Refleksi di Hari Guru Nasional: 10 Ciri Guru yang Sulit Diajak Kolaborasi di Sekolah, Oleh: Bukhari S.Ag.MA., Ketua AGPAII Kab. Solok, Kepala Sekolah SMPN 3 X Koto Di Atas, Mahasiswa S3 UMSB,Senin,24/11/2025.

Redaksi

Singkarak, SumbarMaju.Com – Hari Guru Nasional menjadi momen tepat untuk merefleksikan peran guru dalam pendidikan. Selain sebagai pengajar, guru juga dituntut mampu bekerja sama dalam tim demi kemajuan sekolah dan murid. Namun, kenyataannya tidak semua guru mudah diajak berkolaborasi.

Berdasarkan pengamatan para praktisi pendidikan, ada beberapa ciri guru yang sulit diajak kolaborasi: pertama, sering menolak ide baru tanpa mencoba memahami tujuan bersama. Kedua, lebih fokus pada cara kerjanya sendiri dibandingkan kebutuhan tim. Ketiga, tidak hadir atau kurang aktif saat rapat dan diskusi sekolah.


Selain itu, guru yang sulit bekerja sama cenderung enggan menerima masukan meski untuk kepentingan murid, lebih suka bekerja sendiri tanpa berbagi informasi, mudah tersinggung saat diajak berdiskusi mengenai perbaikan kerja, memprioritaskan ego pribadi dibanding hasil kolaborasi, dan kurang komunikatif sehingga banyak hal dikerjakan tanpa koordinasi.

Ciri lainnya, guru yang sulit berkolaborasi sering tidak konsisten memenuhi kesepakatan tim atau jadwal kerja bersama, serta lebih suka mengkritik daripada membantu mencari solusi.


Menurut pengamat pendidikan, mengenali ciri-ciri ini penting agar kepala sekolah dan tim manajemen dapat mengambil langkah strategis, mulai dari pelatihan hingga membangun budaya kerja yang lebih kolaboratif. “Kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama, tetapi juga kemampuan mendengar, berbagi informasi, dan menempatkan kepentingan murid sebagai prioritas utama,” ujar seorang praktisi pendidikan di Sumatera Barat.


Dengan kesadaran ini, Hari Guru Nasional bisa menjadi momentum bagi guru untuk meningkatkan kemampuan berkolaborasi, sehingga sekolah menjadi lingkungan yang lebih kondusif dan pembelajaran bagi murid semakin efektif.


Lebih lanjut, kolaborasi guru bukan hanya soal bekerja bersama dalam rapat atau perencanaan, tetapi juga bagaimana guru saling mendukung dalam mengatasi tantangan pembelajaran. Guru yang mampu berkolaborasi biasanya lebih mudah menemukan solusi kreatif, berbagi praktik baik, dan membangun inovasi yang bermanfaat bagi murid.


Tak kalah penting, kolaborasi juga membangun iklim positif di sekolah. Lingkungan yang kondusif membuat guru merasa dihargai dan termotivasi untuk berkontribusi lebih, sementara murid pun merasakan manfaatnya melalui pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan terarah.


Sebagai refleksi, Hari Guru Nasional bukan hanya untuk menghormati jasa guru, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kerja sama dan kolaborasi. Dengan upaya bersama, guru dapat menjadi teladan dalam membangun pendidikan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia.( Syafrianto )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar