Padang, SumbarMaju.com — Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPW AGPAII) Sumatera Barat menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan reflektif kepada seluruh masyarakat Indonesia agar momentum tahunan ini dijadikan bahan evaluasi bersama demi kemajuan dunia pendidikan nasional.
Ketua DPW AGPAII Sumbar, Rimelfi, mengatakan bahwa Hardiknas yang diperingati setiap tanggal 2 Mei bukan hanya agenda seremonial, tetapi harus menjadi titik tolak untuk menilai sejauh mana pendidikan Indonesia telah berkembang serta tantangan apa saja yang masih harus diselesaikan.
Menurutnya, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, perhatian terhadap sektor pendidikan tidak boleh setengah-setengah.
“Hardiknas 2 Mei adalah momentum tahunan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” ujar Rimelfi dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan, tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk mengenang jasa besar Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional yang lahir pada 2 Mei 1889 dan dikenal luas sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Menurut Rimelfi, nilai-nilai perjuangan Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan hingga saat ini, terutama dalam upaya menghadirkan pendidikan yang merata, berkualitas, dan mampu membentuk karakter generasi muda.
Ia menilai, salah satu tantangan pendidikan Indonesia saat ini adalah bagaimana menciptakan pemerataan mutu pendidikan di seluruh daerah, baik di perkotaan maupun wilayah terpencil.
Selain itu, peningkatan kualitas tenaga pendidik, fasilitas sekolah, serta akses pendidikan tinggi juga perlu terus diperkuat.
“Sejatinya momentum ini menjadi refleksi untuk semua pihak tentang pentingnya pendidikan yang berkualitas dan merata,” katanya.
Rimelfi menambahkan, untuk menilai kondisi pendidikan nasional saat ini tentu terdapat banyak sudut pandang. Ada yang menilai sudah mengalami kemajuan, namun tidak sedikit pula yang melihat masih banyak persoalan yang harus dibenahi.
Menurutnya, diskusi tentang pendidikan harus dilakukan secara objektif dengan menggunakan analisis yang tepat, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam perspektif keagamaan, Rimelfi menyebut bahwa Islam sejak awal sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Hal itu ditandai dengan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca.
“Perintah Iqra’ menunjukkan bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan menjadi dasar penting dalam membangun peradaban,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh sektor kehidupan, mulai dari agama, sains, sosial, politik hingga ekonomi, tidak dapat berkembang tanpa dukungan ilmu pengetahuan.
Lebih jauh, Rimelfi menyinggung sejarah kejayaan peradaban Islam di abad pertengahan yang melahirkan banyak ilmuwan besar dunia.
Tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, serta Al-Ghazali menjadi bukti bahwa kemajuan ilmu pengetahuan pernah tumbuh sangat pesat di dunia Islam.
Menurutnya, kejayaan tersebut lahir karena adanya budaya ilmiah yang kuat, dukungan pemerintah terhadap pendidikan, dan tingginya semangat belajar masyarakat.
“Jika budaya membaca, meneliti, dan berpikir kritis tumbuh dalam masyarakat, maka kemajuan bangsa akan mengikuti,” tegasnya.
Selain menyinggung sejarah Islam, Rimelfi juga mencontohkan Iran sebagai negara yang mampu menunjukkan kemajuan dalam bidang pendidikan, sains, dan teknologi di tengah berbagai tekanan internasional.
Ia menyebut, salah satu faktor penting kemajuan sebuah negara adalah keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan.
Menurutnya, anggaran pendidikan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh sekolah, guru, mahasiswa, dan masyarakat luas.
Rimelfi juga menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang bersih, penegakan hukum yang adil, serta gaya hidup sederhana para pejabat negara agar kekayaan nasional dapat digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, termasuk sektor pendidikan.
“Pendidikan akan sulit maju jika masih banyak persoalan mendasar yang tidak diselesaikan. Karena itu dibutuhkan komitmen nyata dari semua pihak,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah Indonesia terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, memperhatikan kesejahteraan guru, memperluas akses beasiswa, serta mendorong inovasi di sekolah dan kampus.
Menurutnya, guru tetap menjadi ujung tombak pendidikan. Karena itu, kesejahteraan, perlindungan, dan peningkatan kompetensi guru harus menjadi perhatian utama.
DPW AGPAII Sumbar, lanjut Rimelfi, akan terus berkomitmen mendukung peningkatan mutu pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam, agar mampu melahirkan generasi berakhlak, cerdas, dan siap menghadapi perkembangan zaman.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana negara menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan.
“Peradaban suatu bangsa dibangun dari pendidikan dan ilmu pengetahuan. Jika ilmu pengetahuannya maju, maka peradaban bangsa itu akan maju,” tutup Rimelfi.( Yef)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar