Kolaborasi Perdana di Indonesia, Kemenag dan Ditjenpas Sumbar Bangun Lapas Berbasis Pesantren.

Kolaborasi Perdana di Indonesia, Kemenag dan Ditjenpas Sumbar Bangun Lapas Berbasis Pesantren.

Redaksi

Padang SumbarMaju.com — Terobosan baru dalam dunia pemasyarakatan dan pembinaan keagamaan lahir di Sumatera Barat. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat bersama Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat resmi menjalin kerja sama pembinaan narapidana berbasis pesantren.

Penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut berlangsung di Lapas Perempuan Kelas IIB Padang pada Rabu (6/5/2026), dan disebut sebagai yang pertama di Indonesia karena menghadirkan kolaborasi langsung antarinstansi vertikal dalam penguatan pembinaan spiritual warga binaan.


Kepala Kanwil Kementerian Agama Sumatera Barat, Mustafa, hadir langsung dalam kegiatan tersebut didampingi jajaran pejabat Kanwil Kemenag Sumbar, mulai dari Kabag TU, para Kepala Bidang, Pembimas, hingga tim kerja SDM dan Hukum. Turut hadir pula perwakilan Kemenag Kota Padang, KUA Koto Tangah, serta MUI Sumatera Barat.

Mustafa menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam membangun kembali harapan dan kepercayaan diri warga binaan melalui pendekatan keagamaan yang lebih terarah.


“Program ini kita arahkan untuk menumbuhkan kembali rasa percaya diri dan harapan hidup warga binaan melalui pembinaan spiritual yang berkelanjutan,” ujar Mustafa.


Ia juga menambahkan bahwa penyuluh agama akan dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan program, sehingga pembinaan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan menyentuh kehidupan sehari-hari warga binaan.


“Mari kita jadikan ini sebagai gerakan bersama. Kita ingin perubahan itu nyata, sehingga warga binaan bisa kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan bermartabat,” tegasnya.


Sementara itu, Kepala Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, Kunrat Kasmir, menyebutkan bahwa konsep pembinaan berbasis pesantren ini dirancang untuk memberikan bekal keterampilan keagamaan yang dapat digunakan setelah warga binaan bebas nanti.


“Setidaknya mereka memiliki kemampuan dasar seperti memandikan jenazah, ceramah, hingga menjadi khatib Jumat. Ini bekal yang bisa mereka gunakan ketika kembali ke tengah masyarakat,” ungkapnya.


Kunrat juga menjelaskan bahwa ke depan program ini akan diperluas ke seluruh UPT pemasyarakatan di Sumatera Barat dengan kurikulum yang seragam dan keterlibatan penyuluh agama secara terstruktur.


“Kita ingin ada modul yang jelas dan konsep pesantren yang diterapkan secara konsisten di 25 UPT se-Sumatera Barat,” tambahnya.


Usai penandatanganan, rombongan Kanwil Kemenag Sumbar meninjau langsung berbagai aktivitas warga binaan, mulai dari pojok baca perpustakaan hingga ruang kegiatan membatik yang menjadi bagian dari pembinaan kemandirian.


Program ini diharapkan menjadi tonggak baru pembinaan pemasyarakatan di Sumatera Barat dengan semangat “Masuk Napi, Keluar Santri”, yang menekankan transformasi moral, spiritual, dan keterampilan bagi warga binaan.( Yef)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar