Padang.SumbarMaju.com - Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita menilai seseorang hanya dari apa yang tampak di hadapan mata. Kita mudah mengambil kesimpulan sebelum mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Padahal, apa yang terlihat belum tentu mencerminkan seluruh kisah yang sedang dijalani seseorang. Di sinilah pentingnya menjaga hati dari prasangka buruk (su'udzon) dan membiasakan diri dengan prasangka baik (husnuzan).
Sebuah kisah tentang seorang penjahit tua memberikan pelajaran yang sangat berharga. Di sudut sebuah pasar, seorang penjahit lanjut usia tetap bekerja dengan penuh kesabaran meskipun penglihatannya mulai kabur dan tangannya sering gemetar. Setiap jahitan yang ia kerjakan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dahulu. Namun, semangatnya untuk mencari nafkah yang halal dan menunaikan amanah pelanggan tidak pernah padam.
Suatu hari, datanglah seorang pemuda membawa kain sutra yang sangat mahal untuk dijahit menjadi pakaian istimewa.
Sang penjahit menerima pesanan itu dengan penuh tanggung jawab. Namun, ketika waktu pengambilan tiba, pakaian tersebut belum selesai. Melihat kainnya masih berada di meja kerja, sang pemuda langsung dipenuhi kemarahan. Tanpa mencari tahu penyebabnya, ia menuduh penjahit tua itu lalai, tidak profesional, bahkan menganggapnya sudah tidak layak bekerja.
Dengan emosi yang meluap, pemuda itu mengambil kembali kainnya dan pergi meninggalkan penjahit tua yang hanya mampu menundukkan kepala tanpa membela diri. Tidak ada bantahan, tidak ada kemarahan.
Hanya tatapan mata yang menyimpan kesedihan karena amanah yang belum sempat ia tuntaskan.
Beberapa hari kemudian, pemuda tersebut membawa kainnya kepada penjahit lain.
Betapa terkejutnya ia ketika penjahit baru menjelaskan bahwa potongan kain itu dibuat dengan sangat presisi, memperhatikan arah serat kain sehingga hasil akhirnya akan lebih nyaman dikenakan.
Penjahit muda itu juga mengabarkan bahwa penjahit tua sedang menderita asam urat yang parah pada jari-jarinya, tetapi tetap memaksakan diri bekerja hingga larut malam agar tidak mengecewakan para pelanggannya.
Saat itulah penyesalan memenuhi hati sang pemuda. Ia menyadari bahwa prasangka buruk telah membuatnya berlaku tidak adil kepada orang yang sebenarnya sedang berjuang dalam keterbatasan. Ia menghukum seseorang tanpa mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Kisah tersebut menjadi cermin bagi kita semua. Tidak sedikit konflik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat berawal dari prasangka. Kita sering menilai orang lain berdasarkan potongan informasi yang sangat sedikit, lalu membangun kesimpulan seolah-olah kita mengetahui seluruh kenyataan. Padahal, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui isi hati dan keadaan setiap hamba-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Jauhilah olehmu prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah SWT juga berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa..." (QS. Al-Hujurat: 12).
Di era media sosial saat ini, pesan tersebut semakin relevan. Informasi yang belum tentu benar dapat tersebar begitu cepat.
Banyak orang langsung percaya, berkomentar, bahkan menghujat tanpa melakukan klarifikasi. Akibatnya, tidak sedikit nama baik seseorang hancur hanya karena prasangka yang tidak berdasar.
Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk menahan lisan, menjaga hati, dan mengedepankan husnuzan dalam setiap interaksi. Tidak semua keterlambatan adalah kemalasan, tidak semua diam berarti kesombongan, dan tidak semua kegagalan menunjukkan ketidakmampuan. Bisa jadi seseorang sedang menghadapi ujian yang berat, namun tetap memilih bersabar dan menjaga martabatnya.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari penyakit su'udzon, menghiasi jiwa kita dengan husnuzan, serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa mengedepankan kasih sayang, kebijaksanaan, dan keadilan dalam memandang sesama. Dengan demikian, kehidupan akan dipenuhi kedamaian, persaudaraan, dan keberkahan.Wallahu a'lam Bish-sha wam. ( Yef)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar